Pascabanjir Sumatra, Ratusan Madrasah dan Ribuan Rumah Ibadah Kembali
- 12 Feb 2026 10:59 WIB
- Lhokseumawe
RRI CO.ID, Jakarta - Menteri Agama Nasaruddin Umar memaparkan perkembangan rehabilitasi fasilitas yang terdampak banjir di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Kemenag menetapkan skala prioritas perbaikan rumah ibadah, madrasah, dan pondok pesantren untuk segera dipulihkan agar bisa difungsikan kembali.
“Jelang bulan Suci Ramadhan, kami punya skala prioritas, terutama untuk rumah ibadah dan juga sesuai dengan arahan Bapak Presiden,” kata Menag dalam press conference di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Rabu 11 Februari 2026.
Menag menyebut percepatan penanganan di lapangan turut dibantu unsur TNI-Polri, jajaran vertikal Kementerian Agama hingga tingkat bawah, serta partisipasi masyarakat.Dijelaskan Menag, banjir di Sumatra berdampak pada 773 madrasah, 1.173 pesantren, 1.593 rumah ibadah, dan 102 kantor urusan agama (KUA). Dari jumlah itu, saat ini masih ada 110 madrasah yang masuk kategori rusak parah dan 13 lainnya bahkan harus direlokasi.
Selain itu, ada 107 pesantren juga rusak parah. Untuk rumah ibadah, Menag menyebut 40 unit terdampak berat yang terdiri atas 16 masjid dan 24 gereja. Ada juga satu KUA yang rusak berat. Menurut Menag, rehabilitasi bertahap sudah berlangsung dan sebagian besar fasilitas telah kembali beroperasi.
“Sekarang alhamdulillah kita bisa lihat sudah dilakukan rehabilitasi bertahap pada 650 madrasah dan kegiatan belajar-mengajar sudah berjalan,” ujarnya.
Sebanyak 1.066 pondok pesantren juga sudah beroperasi dan kegiatan belajar-mengajar juga sudah berjalan. Selain itu, 1.553 rumah ibadah sudah digunakan, dan 101 KUA sudah beroperasi. Untuk satu KUA yang rusaknya paling berat, Kemenag menyiapkan layanan sementara.
Dalam paparannya, Menag juga menjelaskan skema perbaikan bangunan madrasah yang melibatkan dengan kementerian lain. Ia mengatakan renovasi dan pembangunan gedung madrasah dikerjakan melalui kerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
“Untuk renovasi dan pembangunan gedung-gedung madrasah kami kerjasama dengan Kementerian PU,” ujarnya.

Terkait pendanaan, Menag menyampaikan Kemenag menyiapkan anggaran untuk rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas yang rusak berat, termasuk rencana penanganan tambahan. Menag menyebut 123 madrasah masuk dalam perencanaan aksi rehabilitasi dan rekonstruksi rusak berat.
Untuk dukungan sarana dan prasarana serta kebutuhan pembelajaran, Kemenag mengusulkan anggaran Rp85,5 miliar. Untuk 107 pondok pesantren, bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi sebesar Rp74,1 miliar. Sementara untuk 40 rumah ibadah, bantuan stimulasi rehabilitasi dan rekonstruksi sebesar Rp20 miliar. Adapun untuk satu KUA yang harus dipindah, ia menyebut kebutuhan pengadaan lahan dan rekonstruksi senilai Rp3M karena memang sudah harus dipindah.
Menag juga menyinggung dukungan anggaran yang pernah disalurkan melalui Ditjen Pendidikan Islam untuk fasilitas pendidikan terdampak bencana pada 2025, dengan contoh wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Untuk Aceh,
Ia menyebut anggaran fasilitas pendidikan senilai Rp1,8 miliar dan untuk madrasah sekitar Rp13,1 miliar. Untuk Sumatera Utara, ia menyebut total anggaran untuk pesantren senilai Rp600 juta dan untuk madrasah senilai 600 juta. Sementara untuk Sumatera Barat, ia menyampaikan anggaran fasilitas pendidikan senilai Rp9,4 miliar dan madrasah senilai 4,2 M.