Pengalaman Petugas Haji Dari Melayani Jemaah hingga Kisah Sandal Hilang

  • 09 Mei 2026 19:19 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe – Musim haji selalu menjadi momentum penuh haru, spiritual, sekaligus tantangan besar bagi para jemaah, khususnya jemaah asal Indonesia yang mayoritas merupakan lanjut usia. Berbagai pengalaman menarik dan pelajaran berharga selama bertugas di Tanah Suci dibagikan oleh dr. Hasri, M. Med. Sc., Sp. Rad yang pernah menjadi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) tahun 2015 di Daerah Kerja Madinah Sektor 4 serta kembali bertugas pada tahun 2018 sebagai Tim Gerak Cepat (TGC).

Menurut dr. Hasri, salah satu persoalan yang paling sering dihadapi jemaah adalah kurangnya persiapan obat-obatan pribadi sebelum keberangkatan. Banyak jemaah yang lupa membawa obat rutin maupun obat pendukung ibadah seperti obat lambung, obat hipertensi, vitamin, oralit, hingga obat penunda haid bagi perempuan.

Ia menjelaskan, kondisi cuaca di Arab Saudi sangat berbeda dengan Indonesia sehingga kondisi fisik jemaah mudah menurun apabila tidak dipersiapkan dengan baik. Karena itu, setiap jemaah diimbau membawa perlengkapan kesehatan secukupnya sejak dari tanah air untuk menghindari kesulitan memperoleh obat tertentu di Tanah Suci.

Selain persoalan kesehatan, dr. Hasri juga mengungkapkan bahwa jemaah lansia sering mengalami kebingungan dan terpisah dari rombongan. Faktor kelelahan, dehidrasi, kendala bahasa, hingga kepanikan menjadi penyebab utama. Oleh sebab itu, jemaah diminta menghafal nomor kloter, nomor rombongan, serta mengenali lokasi hotel tempat menginap.

Kepadatan di bandara maupun area Masjidil Haram dan Masjid Nabawi juga menjadi tantangan tersendiri bagi jemaah. Saat proses distribusi koper misalnya, tidak sedikit jemaah yang kesulitan menemukan barang bawaannya akibat kondisi yang sangat ramai. Pada pelaksanaan lempar jumrah, faktor keselamatan menjadi perhatian utama petugas.

Cuaca panas ekstrem dapat menyebabkan dehidrasi hingga pingsan. Karena itu, jemaah dianjurkan membawa payung, masker, semprotan air, kacamata, serta air minum dan makanan ringan untuk menjaga kondisi tubuh tetap stabil.

dr. Hasri juga mengingatkan pentingnya menjaga keamanan diri dan barang bawaan. Ia menyebutkan, tindak pencopetan kerap terjadi di area padat seperti Masjidil Haram dengan modus pelaku berpura-pura meminta sedekah. Untuk menghindari hal tersebut, jemaah diminta tidak membawa uang tunai berlebihan dan lebih memanfaatkan kartu ATM maupun transaksi non-tunai.

Selain itu, jemaah juga diimbau memahami aturan selama berada di Tanah Suci, termasuk larangan mengambil foto atau merekam di sejumlah lokasi tertentu seperti rumah sakit, area Mina, maupun beberapa titik di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Jemaah juga diminta tidak membawa terlalu banyak barang saat memasuki area masjid agar tidak menghambat pemeriksaan keamanan. Di balik berbagai tantangan tersebut, terdapat pula pengalaman unik dan lucu yang sering ditemui petugas, khususnya saat mendampingi jemaah lansia.

Salah satunya kebiasaan sebagian jemaah yang melepas sandal jauh sebelum masuk masjid karena takut tertukar. Akibatnya, setelah selesai salat mereka lupa lokasi sandal disimpan bahkan ada yang kehilangan sandal dan berjalan tanpa alas kaki di tengah panasnya aspal Arab Saudi.

“Tidak jarang ada jemaah berjalan kecil-kecil sambil meloncat karena telapak kaki kepanasan. Situasi itu memang kadang mengundang senyum, tetapi juga menjadi pelajaran penting agar sandal selalu dibawa menggunakan kantong sandal kecil,” ujar dr. Hasri. saat menceritakan pengalaman nya sebagai petugas haji kepada RRI. Sabtu 9 Mei 2026.

Sebagai mantan petugas haji, dr. Hasri mengaku selalu memegang prinsip bahwa “Bertugas untuk ibadah, bukan ibadah untuk bertugas.” Menurutnya, pelayanan kepada jemaah merupakan bentuk pengabdian dan ibadah mulia yang harus dilakukan dengan penuh keikhlasan, kesabaran, serta tanggung jawab demi kenyamanan para tamu Allah di Tanah Suci.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....