PWI Kecam Danramil Tanah Luas, Jangan Pakai Cara Lama Bela Anak Buah

  • 28 Agt 2026 11:06 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Ketua PWI Lhokseumawe, Sayuti Achmad, mengecam keras keterangan yang disampaikan Muspika Tanah Luas melalui Danramil 10 Tanah Luas terkait insiden kericuhan yang berujung pada dugaan penganiayaan terhadap wartawan Haiqal Alfikri.

Sayuti menilai narasi yang disampaikan Danramil berpotensi mengaburkan fakta di lapangan dan menggiring opini untuk membela anggota TNI yang diduga terlibat dalam insiden tersebut.

Ia bahkan menduga terdapat keterlibatan pihak lain dalam penyusunan narasi tandingan di lapangan, namun dugaan tersebut, menurutnya, masih perlu ditelusuri lebih lanjut.

“Kami sudah melakukan investigasi. Fakta yang kami temukan di lapangan tidak seperti yang disampaikan Danramil. Jangan menggunakan cara-cara lama dengan membangun kontraopini ketika persoalan menyangkut dugaan kekerasan terhadap wartawan,” tegas Sayuti, Jumat , 28 Agustus 2026.

Ketua PWI Lhokseumawe, Sayuti Achmad.

Menurut Sayuti, masyarakat saat ini tidak mudah menerima begitu saja narasi sepihak. Ia menyebut terdapat warga yang menyaksikan langsung kejadian ketika Haiqal diduga mengalami tindakan kekerasan di tengah kericuhan pertandingan.

Sayuti juga mempertanyakan keberadaan personel Koramil dalam pertandingan sepak bola tersebut. Berdasarkan penelusuran PWI, kehadiran sejumlah anggota Koramil disebut berkaitan dengan honorarium yang disediakan panitia, bukan semata-mata dalam kapasitas pengamanan.

“Kalau memang untuk pengamanan, apa kapasitas dan kepentingan militer dalam melakukan pengamanan pertandingan sepak bola? Ini harus dijelaskan secara terbuka agar tidak menimbulkan tafsir liar di tengah masyarakat,” katanya.

Sayuti mengatakan PWI Lhokseumawe telah membentuk tim investigasi sejak Kamis malam untuk menelusuri berbagai informasi di lapangan, termasuk kemungkinan adanya kaitan antara insiden tersebut dengan pemberitaan Haiqal selama ini.

Kronologi Versi Haiqal

Sementara itu, Haiqal Alfikri menjelaskan bahwa sebelum kericuhan terjadi, dirinya berada di tribun bagian belakang bersama seorang personel Polsek Tanah Luas.

Ia mengaku menyaksikan selebrasi yang dinilainya mengarah pada ejekan dan gestur provokatif dari salah seorang pemain bernomor punggung 18 dari kesebelasan Trieng setelah peluit akhir pertandingan dibunyikan wasit.

Ketika kericuhan mulai terjadi, Haiqal turun ke lapangan untuk mengambil dokumentasi sebagai bagian dari tugas jurnalistiknya.

Namun, karena dirinya merupakan warga salah satu tim, keberadaannya kemudian diduga disalahpahami oleh salah satu pihak sebagai bentuk keberpihakan. Haiqal mengaku sempat terlibat aksi dorong sebelum dihampiri seseorang yang menurutnya merongrong dirinya.

“Saya turun ke lapangan untuk mengambil dokumentasi. Ketika ada yang merongrong saya, saya hendak menjelaskan kapasitas saya sebagai wartawan. Dalam kondisi ramai, saya memang merespons dengan nada tinggi,” ujar Haiqal.

Menurut pengakuannya, situasi kemudian berubah ketika seorang anggota TNI diduga memitingnya dari belakang. Ia menyebut seorang anggota lainnya kemudian melakukan tindakan kekerasan terhadap dirinya.

“Saya dipiting dari belakang. Kemudian ada anggota lain yang melakukan penganiayaan. Alhamdulillah, ada anggota Polsek Tanah Luas yang langsung melindungi saya dan berteriak agar tindakan tersebut dihentikan,” katanya.

Haiqal mengaku mengalami nyeri pada bagian rusuk setelah kejadian tersebut dan masih menjalani observasi medis untuk mengetahui perkembangan kondisinya.

Bantah Disebut Diamankan Polisi

Haiqal membantah apabila kejadian tersebut disebut sebagai bagian dari upaya anggota TNI melerai kericuhan.

“Tidak ada aksi peleraian yang dilakukan TNI terhadap saya. Yang terjadi, saya justru dipiting dan mengalami kekerasan. Setelah itu anggota Polsek yang melerai dan melindungi saya,” tegasnya.

Ia juga membantah dirinya diamankan oleh personel Polsek Tanah Luas.

“Saya tidak diamankan. Saya sendiri yang berlari ke Polsek karena kendaraan saya memang biasa saya parkir di sana ketika menonton pertandingan sepak bola,” jelasnya.

Haiqal mempertanyakan alasan dirinya menjadi sasaran ketika kericuhan telah lebih dahulu terjadi.

“Mereka datang dari arah yang cukup jauh dan langsung mengarah kepada saya. Pertanyaannya sederhana, kalau memang tujuan mereka melerai kericuhan, mengapa justru saya yang didatangi dan dipiting?” ujarnya.

Ia juga menyebut salah seorang anggota TNI yang diduga terlibat, Sertu Hendra, masih menunjukkan gestur menantang setelah dilerai oleh anggota Polsek.

“Saya melihat matanya masih melotot dan gesturnya seperti menantang. Itu yang saya rasakan langsung di lokasi,” katanya.

Haiqal mengaku sebelum kejadian tersebut beberapa kali merasakan sikap sinis dari Sertu Hendra ketika berpapasan. Namun, ia menyatakan tidak mengetahui secara pasti apa yang menjadi pemicunya.

PWI Soroti Dugaan Motif Lain

Ketua PWI Lhokseumawe Sayuti Achmad menilai insiden tersebut perlu dilihat secara utuh dan tidak semestinya dipisahkan dari aktivitas jurnalistik Haiqal selama ini.

Menurut Sayuti, Haiqal merupakan wartawan yang kritis dan dalam beberapa waktu terakhir intens melakukan peliputan terkait dugaan penggelapan dana kegiatan 17 Agustus di Kecamatan Tanah Luas serta sejumlah persoalan lainnya.

“Kami sudah melakukan investigasi. Kami menemukan banyak pihak yang merasa risih dengan kehadiran Haiqal karena pemberitaannya kritis. Karena itu, kami melihat kejadian ini perlu diperiksa secara serius. Jangan sampai kericuhan dijadikan kesempatan untuk melakukan tindakan terhadap wartawan,” tegasnya.

Sayuti menilai terdapat dugaan persoalan yang lebih luas daripada sekadar insiden spontan di lapangan.

“Kami melihat ada miskomunikasi atau hubungan yang tidak sehat antara Koramil dengan anggota kami di lapangan. Kejadian ini harus diperiksa secara objektif. Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa ini murni upaya peleraian sebelum seluruh fakta dibuka,” katanya.

Ia meminta institusi TNI mengambil alih penanganan persoalan dari level bawah agar pemeriksaan berlangsung objektif dan tidak menimbulkan kesan institusi membela anggotanya.

“Saya sudah dua dekade menjadi wartawan. Saya memahami pola-pola ketika sebuah institusi berusaha melindungi anggotanya. Karena itu, jangan sampai proses klarifikasi berubah menjadi upaya membangun kontraopini dan mengaburkan fakta,” tegas Sayuti.

Ia juga meminta Danramil tidak memperkeruh keadaan dengan menyampaikan narasi yang belum teruji.

“Saya mantan wartawan Bukit Barisan dan pernah menjadi wartawan perang. Saya paham bagaimana pola-pola pemberitaan dan kontraopini dibangun. Harapan saya, Danramil jangan mempertinggi tempat untuk jatuh. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk berkata berdasarkan fakta,” ujarnya.

PWI Siapkan Langkah Hukum

Sayuti menegaskan PWI Lhokseumawe tidak akan tinggal diam. Pihaknya masih menunggu perkembangan kondisi kesehatan Haiqal yang saat ini menjalani observasi medis akibat nyeri pada bagian rusuk.

Setelah kondisi medis dinyatakan memungkinkan, PWI berencana menempuh langkah hukum dengan melaporkan dua anggota TNI yang diduga terlibat ke Polisi Militer.

“Kami sedang menunggu pemulihan Haiqal. Setelah itu, kami akan menempuh jalur hukum. Kami juga sudah berkoordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk PWI Aceh dan Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), dan mereka siap memberikan dukungan agar persoalan ini diproses secara hukum,” kata Sayuti.

Ia menegaskan persoalan tersebut bukan semata-mata menyangkut Haiqal sebagai individu, melainkan menyangkut perlindungan terhadap profesi wartawan ketika menjalankan tugas jurnalistik.

PWI Lhokseumawe, kata Sayuti, meminta seluruh pihak menahan diri dan menyerahkan proses penanganan kepada mekanisme hukum agar fakta kejadian dapat diungkap secara objektif dan transparan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....