Silent Treatment Dalam Islam
- 20 Sep 2025 23:32 WIB
- Lhokseumawe
KBRN,Lhokseumawe : Mendiamkan Pasangan atau yang biasa diistilahkan dengan Silent Treatment rupanya telah ada sejak masa rasulullah. Ketika Nabi Muhammad SAW menghadapi ujian konflik rumah tangga, Rasulullah melakukan Silent Treatment terhadap para istri-istrinya sebagai salah satu solusi meredam konflik.
Silent treatment sendiri dalam islam dibolehkan, dengan tujuan untuk memberi jeda dalam hal memanajemen konflik, sembari mencari jalan keluar yang lebih tepat dan bijaksana. Batas waktu yang dibolehkan mendiamkan istri diatur paling lama sampai batas 30 hari. Hal ini dijelaskan Dr.Ruhama Wazna, S.TH.I.,MA saat mengisi dialog program acara Kajian Islami di RRI Pro Satu Lhokseumawe pada Jumat (19/9/2025).
"Nabi melakukan silent treatment dengan cara menyendiri di atas plafon rumah, dan tidak pergi meninggalkan tanggungjawabnya," ungkap Dekan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) UIN Sulthanah Nahrasiyah itu.
Dalam dialog bertajuk "Manajemen Konflik Ala Rasulullah" yang dipandu Ustadz Khairunnasri tersebut, dijelaskan pula bahwa apabila terjadi pertengkaran antara suami istri, maka haruslah ada jeda untuk meredam suasana dan tidak memaksakan mencarikan solusi segera.
"Kalau mau dibicarakan masalahnya jangan langsung saat sehabis bertengkar, harus jeda, cooling down dulu baru kemudian didiskusikan," jelas Ruhama.
Apabila seorang Istri dituduh selingkuh misalnya, suami tidak boleh langsung percaya, menjudge, marah-marah atau sampai main kekerasan. Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, dimana pernah terjadi fitnah terhadap istrinya Aisyah, maka beliau mencari tahu kebenaran terlebih dahulu, menanyakan kepada orang-orang terdekat, baru kemudian mencarikan solusinya.
Rasulullah dikenal sebagai sosok yang sangat menghormati dan memuliakan istrinya, dengan mengumpamakan mereka sebagai gelas-gelas kaca, yakni makhluk yang harus diperlakukan dengan lemah lembut.
Berkaca dengan konteks saat ini, dimana banyak terjadi konflik rumah tangga yang bahkan berujung pada perceraian, menurut Ruhama hal itu disebabkan pertengkaran terus menerus yang gagal dicarikan resolusi konfliknya.
"Itulah sebabnya penting meneladani manajemen konflik ala rasulullah," pungkas Ruhama.
Dalam obrolan berdurasi satu jam itu, Ustadz Khairunnasri yang bertindak sebagai host menutup obrolan dengan sebuah quotes: "ego perempuan tidaklah untuk diimbangi, tapi untuk dipahami."
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....