Bukan Mitos! Ini Alasan Bulan “Ber-ber” Sering Identik dengan Musim Hujan di Indonesia

  • 30 Sep 2026 18:29 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI. CO. ID, Lhokseumawe - Memasuki bulan-bulan yang berakhiran “-ber”, masyarakat Indonesia mulai akrab dengan perubahan cuaca, terutama meningkatnya frekuensi hujan di sejumlah wilayah. September, Oktober, November, dan Desember bahkan sering disebut sebagai periode “bulan ber-ber” yang identik dengan musim hujan. Anggapan tersebut bukan sekadar mitos.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa pada periode September–November, sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan secara bertahap. Namun, awal musim hujan tidak berlangsung serentak di seluruh Indonesia karena setiap wilayah memiliki pola iklim yang berbeda.

Menurut BMKG, dalam prediksi musim hujan 2025/2026, sebanyak 333 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 47,6 persen wilayah ZOM diprakirakan memasuki musim hujan pada September, Oktober, hingga November 2025. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa periode “bulan ber-ber” memang bertepatan dengan masa peralihan menuju musim hujan di banyak daerah.

Setelah itu, wilayah yang memasuki musim hujan diperkirakan terus bertambah secara bertahap hingga sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim hujan.

Perubahan tersebut berkaitan dengan dinamika atmosfer dan pola angin musiman yang memengaruhi distribusi uap air di Indonesia.

Selain monsun, BMKG juga mempertimbangkan kondisi fenomena iklim global dan regional seperti El Niño–Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) dalam menganalisis perkembangan musim. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi jumlah curah hujan serta waktu datangnya musim hujan dari satu tahun ke tahun berikutnya. Karena itu, pola hujan pada bulan “ber-ber” tidak selalu sama setiap tahun.

Menariknya, istilah “bulan ber-ber” tidak dapat dijadikan patokan mutlak bahwa seluruh Indonesia akan mengalami hujan sepanjang September hingga Desember. Perbedaan letak geografis, kondisi topografi, dan pola atmosfer menyebabkan awal musim hujan setiap daerah berbeda. Bahkan, dalam perkembangan musim hujan 2026/2027, BMKG memprakirakan awal musim hujan di banyak wilayah mengalami kemunduran dibandingkan kondisi normal.

BMKG mengaitkannya antara lain dengan pengaruh El Niño yang sangat kuat serta kondisi IOD.

Dengan demikian, anggapan bahwa bulan “ber-ber” identik dengan musim hujan memiliki dasar klimatologis, tetapi tidak berarti hujan akan turun setiap hari atau bersamaan di seluruh Indonesia. September hingga Desember merupakan periode penting dalam perkembangan musim hujan di banyak wilayah, sementara waktu dan intensitasnya sangat bergantung pada kondisi atmosfer dan wilayah masing-masing.

Untuk mengetahui kondisi terbaru, masyarakat sebaiknya mengikuti informasi dan prakiraan cuaca resmi BMKG, terutama ketika merencanakan kegiatan yang bergantung pada kondisi cuaca.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....