Seberapa Akurat Smartwatch Mengukur Kalori saat Lari?

  • 28 Sep 2026 21:37 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Smartwatch kini tidak hanya digunakan untuk melihat waktu atau menerima notifikasi, tetapi juga menjadi alat untuk memantau aktivitas fisik. Salah satu data yang paling sering diperhatikan adalah jumlah kalori yang terbakar. Saat selesai berolahraga, jam tangan biasanya langsung menampilkan angka seperti 300, 500, bahkan lebih dari 1.000 kalori. Namun, angka tersebut sebenarnya bukan hasil pengukuran langsung terhadap energi yang keluar dari tubuh. Smartwatch menggunakan kombinasi data seperti detak jantung, usia, jenis kelamin, berat badan, gerakan tubuh, durasi aktivitas, dan algoritma tertentu untuk membuat perkiraan pengeluaran energi.

Masalahnya, memperkirakan kalori yang terbakar jauh lebih rumit daripada menghitung jumlah langkah atau mengukur detak jantung. Dua orang yang berlari dengan pace dan jarak yang sama belum tentu mengeluarkan energi dalam jumlah yang sama. Efisiensi gerakan, komposisi tubuh, tingkat kebugaran, kondisi lingkungan, hingga perubahan detak jantung dapat memengaruhi kebutuhan energi. Karena itu, angka kalori yang muncul di smartwatch sebaiknya dipahami sebagai estimasi, bukan angka pasti yang menunjukkan berapa banyak kalori benar-benar digunakan tubuh.

Akurasi juga dapat berbeda tergantung jenis aktivitas dan perangkat yang digunakan. Pengukuran detak jantung dari sensor optik di pergelangan tangan umumnya cukup berguna untuk melihat pola dan perubahan intensitas, tetapi tidak selalu sempurna, terutama ketika banyak gerakan tangan, saat intensitas berubah cepat, atau ketika posisi jam kurang tepat. Untuk memperkirakan pengeluaran energi, keterbatasan tersebut dapat ikut memengaruhi hasil akhir. Penelitian yang membandingkan perangkat wearable dengan metode laboratorium juga menemukan bahwa kemampuan perangkat dalam memperkirakan pengeluaran energi sangat bervariasi dan cenderung lebih sulit dibandingkan pengukuran detak jantung atau jumlah langkah.

Hal yang juga sering dilupakan adalah perbedaan antara active calories dan total calories. Active calories merupakan energi yang diperkirakan digunakan akibat aktivitas, sedangkan total calories biasanya mencakup energi yang tetap digunakan tubuh untuk menjalankan fungsi dasar seperti bernapas, menjaga suhu tubuh, dan mempertahankan kerja organ. Inilah alasan mengapa seseorang bisa melihat angka kalori yang cukup besar setelah olahraga meskipun durasi latihannya tidak terlalu lama. Angka tersebut tidak selalu berarti seluruhnya berasal dari aktivitas olahraga.

Berdasarkan berbagai penelitian mengenai wearable technology dan pengukuran pengeluaran energi yang dilansir dari berbagai sumber, smartwatch lebih tepat digunakan sebagai alat untuk melihat tren, bukan sebagai alat ukur kalori yang sangat presisi. Misalnya, jika perangkat yang sama secara konsisten menunjukkan pengeluaran energi lebih tinggi ketika latihan lebih lama atau lebih intens, data tersebut masih berguna untuk memahami pola aktivitas. Namun, menjadikan angka kalori dari smartwatch sebagai dasar tunggal untuk menentukan berapa banyak makanan yang harus dikonsumsi atau seberapa banyak kalori yang "boleh" dimakan kembali dapat menghasilkan perkiraan yang keliru. Jadi, kalau smartwatch menunjukkan kamu membakar 500 kalori saat berlari, anggap angka tersebut sebagai perkiraan berbasis algoritma, bukan tagihan energi yang harus dibayar kembali dengan makanan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....