Mahasiswa KKN Ajak Remaja Lawan Budaya Cyberbullying di SMPN 1 Kuta Makmur
- 29 Agt 2026 21:35 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Di era digital yang serba cepat ini, setiap orang hanya butuh satu detik untuk mengetik dan mengirimkan pesan. Namun, satu detik itu bisa meninggalkan luka yang bertahan seumur hidup. Itulah pesan yang ingin disampaikan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPM) Kelompok 26 Universitas Malikussaleh kepada puluhan siswa-siswi SMPN 1 Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, melalui kegiatan sosialisasi bertajuk "Think Before You Type! Lawan Budaya Cyberbullying", Sabtu 29 Agustus 2026.
Kegiatan yang berlangsung di ruang kelas SMPN 1 Kuta Makmur ini dihadiri oleh puluhan remaja yang merupakan generasi paling aktif menggunakan media sosial dan platform digital. Mahasiswa KKN hadir dengan pendekatan yang segar dan interaktif—tanpa menggurui, tetapi mengajak para siswa untuk bersama-sama merenungkan dampak dari setiap kata yang mereka ketik di dunia maya.
Ketua Humas Kelompok 26 KKN PPM, Muhammad Fauzil Adim Harahap, menjelaskan bahwa kegiatan ini lahir dari keprihatinan mahasiswa terhadap maraknya kasus perundungan daring (cyberbullying) yang terjadi di kalangan remaja, terutama pelajar SMP dan SMA. Banyak dari mereka yang tidak menyadari bahwa komentar, ejekan, atau bahkan "candaan" di media sosial bisa menyakiti orang lain dan berakibat fatal.
"Kami melihat fenomena di mana remaja seringkali merasa bebas berbicara di dunia maya tanpa memikirkan konsekuensinya. Mereka mengetik tanpa berpikir, menyebarkan ujaran kebencian, melakukan body shaming, bahkan mengucilkan teman-teman mereka secara online. Padahal, di balik layar, ada manusia dengan perasaan yang sama seperti mereka. Kami ingin mengajak remaja di sini untuk lebih bijak dalam berinternet dan berani menjadi pelopor kebaikan di dunia digital," ujar Muhammad Fauzil Adim Harahap dengan penuh semangat.
Kegiatan dibuka dengan sesi ice breaking yang mencairkan suasana dan membuat para siswa merasa nyaman. Mahasiswa KKN kemudian memutar sebuah video pendek yang menggambarkan dampak cyberbullying terhadap korban—mulai dari rasa malu, depresi, kehilangan kepercayaan diri, hingga munculnya pikiran untuk mengakhiri hidup. Suasana kelas yang awalnya riuh berubah menjadi hening dan merenung.
Salah satu siswa, Andi (14 tahun) , mengaku baru menyadari betapa seriusnya dampak cyberbullying setelah menonton video tersebut.
"Aku sering lihat teman-teman yang suka mengejek orang di kolom komentar Instagram dan TikTok. Aku pikir itu cuma bercanda. Tapi setelah nonton videonya, aku sadar kalau itu bisa menyakiti orang lain. Aku nggak mau jadi pelaku cyberbullying lagi," ujar Andi dengan nada serius.
Setelah sesi video, mahasiswa KKN mengajak para siswa untuk memahami perbedaan antara kritik membangun dan ejekan/penghinaan. Mereka juga menjelaskan berbagai bentuk cyberbullying—mulai dari komentar jahat, penyebaran gosip, pengucilan daring (online shaming), hingga pembuatan akun palsu untuk merendahkan orang lain. Semua disampaikan dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami oleh remaja.
Sesi berikutnya adalah diskusi kelompok di mana para siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk berbagi pengalaman dan pendapat tentang fenomena cyberbullying yang pernah mereka saksikan atau alami sendiri. Mahasiswa KKN mendampingi setiap kelompok dan membantu mereka merumuskan cara-cara untuk melawan budaya cyberbullying di lingkungan sekolah maupun di dunia maya.
Beberapa siswa dengan berani berbagi pengalaman pribadi tentang bagaimana mereka pernah menjadi korban ejekan di media sosial. Ada pula yang mengakui bahwa mereka pernah tanpa sengaja menjadi pelaku cyberbullying dengan menyebarkan meme yang menghina teman sekelas. Dari diskusi ini, lahirlah komitmen bersama untuk lebih bijak dalam berinternet dan berani mengatakan "tidak" pada cyberbullying.
Salah satu guru SMPN 1 Kuta Makmur, Ibu Siti Rohani, mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKN yang membawa topik penting ini ke tengah-tengah siswa. Menurutnya, edukasi tentang cyberbullying sangat dibutuhkan mengingat semakin maraknya penggunaan media sosial di kalangan remaja.
"Kami sangat berterima kasih kepada adik-adik KKN yang sudah mengajak siswa-siswi kami untuk merenungkan dampak dari setiap kata yang mereka tulis di media sosial. Ini adalah pelajaran berharga yang jarang kami dapatkan di kelas. Kami berharap siswa-siswi kami menjadi lebih bijak dan bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial ke depannya," ujar Ibu Siti Rohani.
Tak hanya teori dan diskusi, mahasiswa KKN juga mengajak para siswa untuk membuat kampanye anti-cyberbullying secara kreatif. Mereka diminta membuat poster atau status di media sosial dengan pesan-pesan positif yang mengajak teman-teman mereka untuk melawan cyberbullying. Beberapa hasil karya siswa yang paling inspiratif mendapatkan hadiah dan akan dipajang di mading sekolah sebagai pengingat bersama.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kelompok 26, Dr. Naz'aina, S.E., M.Si., Ak., mengaku bangga dengan inisiatif mahasiswanya yang peduli terhadap isu sosial yang sangat relevan dengan kondisi remaja saat ini.
"Saya sangat mengapresiasi ide mahasiswa yang membawa topik cyberbullying ke tengah-tengah siswa SMP. Ini adalah isu yang sangat penting dan sering kali diabaikan. Mahasiswa tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga mengajak siswa untuk menjadi bagian dari solusi. Saya yakin, kegiatan ini akan membekas di hati para siswa dan membuat mereka lebih bijak dalam menggunakan media sosial," ujar Dr. Naz'aina.
Kepala Sekolah SMPN 1 Kuta Makmur, Bapak M. Yunus, juga menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepedulian mahasiswa KKN terhadap siswa-siswi di sekolahnya. Beliau berharap kegiatan seperti ini terus dilakukan dan menjadi program rutin di sekolah.
"Kami sangat terbantu dengan adanya sosialisasi ini. Kami melihat antusiasme siswa yang sangat tinggi dan mereka benar-benar memahami materi yang disampaikan. Semoga kegiatan ini bisa terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak siswa lagi," ujar Bapak M. Yunus.
Kegiatan sosialisasi anti-cyberbullying di SMPN 1 Kuta Makmur ini ditutup dengan pembacaan ikrar anti-cyberbullying yang dipimpin oleh Muhammad Fauzil Adim Harahap dan diikuti dengan penuh semangat oleh seluruh siswa yang hadir. Berikut isi ikrar tersebut:
"Kami, siswa-siswi SMPN 1 Kuta Makmur, berjanji untuk berpikir sebelum mengetik, tidak menyebarkan kebencian di dunia maya, berani menolak perundungan daring, dan menjadi pelopor kebaikan di media sosial. Karena setiap kata yang kita ketik, meninggalkan bekas yang tak terhapuskan."
Suasana haru dan penuh makna menyelimuti ruangan saat ikrar dibacakan. Para siswa terlihat berkomitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik di dunia digital.
Muhammad Fauzil Adim Harahap menuturkan bahwa kegiatan ini bukan akhir, tetapi awal dari gerakan bersama untuk melawan budaya cyberbullying di kalangan remaja.
"Kami hanya memulai percikan kecil. Tapi dengan semangat dan komitmen dari adik-adik semua, percikan ini akan menjadi api yang membakar habis budaya cyberbullying. Ingatlah, apa yang kita tulis di dunia maya adalah cerminan dari siapa kita sebenarnya. Mari jadikan media sosial sebagai tempat untuk menyebarkan kebaikan, bukan kebencian," pungkasnya.
Kegiatan edukasi anti-cyberbullying di SMPN 1 Kuta Makmur ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa KKN tidak hanya peduli pada pembangunan ekonomi dan fisik, tetapi juga pada kesehatan mental dan karakter generasi muda. Dengan semangat "Think Before You Type!" , mereka mengajak seluruh remaja untuk menjadi agen perubahan yang bijak dan bertanggung jawab di era digital.
Think Before You Type! Lawan Cyberbullying, Sebarkan Kebaikan!
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....