Kenali Weaponized Incompetence, saat Pura-Pura Tak Bisa Jadi Kebiasaan

  • 25 Jul 2026 11:14 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Belakangan ini istilah weaponized incompetence semakin sering muncul di media sosial, terutama saat membahas hubungan, pekerjaan, hingga kehidupan sehari-hari. Banyak warganet menggunakan istilah ini untuk menggambarkan seseorang yang berpura-pura tidak bisa melakukan suatu hal agar tanggung jawabnya dialihkan kepada orang lain. Meski terdengar seperti sekadar tren di internet, perilaku ini ternyata bisa berdampak pada hubungan dan kerja sama jika terjadi terus-menerus.

Secara sederhana, weaponized incompetence adalah tindakan sengaja menunjukkan ketidakmampuan atau berpura-pura tidak mengerti agar terhindar dari tugas tertentu. Misalnya, seseorang mengaku tidak bisa mencuci piring dengan benar, memasak, atau mengurus administrasi, sehingga orang lain akhirnya mengambil alih pekerjaan tersebut. Lama-kelamaan, perilaku ini membuat beban menjadi tidak seimbang karena hanya satu pihak yang terus bertanggung jawab.

Fenomena ini sering dibahas dalam konteks hubungan pasangan, tetapi sebenarnya bisa terjadi di mana saja. Di lingkungan kerja, misalnya, ada rekan yang sengaja mengerjakan tugas dengan asal-asalan agar tidak lagi diberi tanggung jawab serupa. Di rumah, anggota keluarga yang terus mengatakan "aku nggak bisa" tanpa pernah mau belajar juga dapat memunculkan situasi yang sama. Jika dibiarkan, perilaku tersebut bisa memicu rasa lelah, kesal, hingga konflik karena ada pihak yang merasa dimanfaatkan.

Namun, penting untuk membedakan antara benar-benar belum mampu dengan sengaja berpura-pura tidak mampu. Tidak semua orang yang kesulitan melakukan sesuatu bisa langsung disebut melakukan weaponized incompetence. Ada orang yang memang membutuhkan waktu untuk belajar atau belum memiliki pengalaman. Perbedaannya terletak pada kemauan untuk mencoba, belajar, dan bertanggung jawab. Seseorang yang terus menghindar tanpa usaha memperbaiki diri lebih dekat dengan perilaku weaponized incompetence.

Karena itu, komunikasi yang terbuka menjadi kunci untuk mencegah masalah ini. Membagi tugas secara adil, saling menghargai usaha, dan memberi kesempatan untuk belajar dapat menciptakan hubungan yang lebih sehat, baik di rumah, pertemanan, maupun di tempat kerja. Di tengah ramainya istilah baru di media sosial, memahami makna weaponized incompetence dapat membantu kita lebih peka terhadap pembagian tanggung jawab yang adil dan pentingnya kerja sama dalam kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....