Film Inong Peudame Soroti Peran Perempuan Jaga Perdamaian Aceh

  • 01 Okt 2026 15:36 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.IS,Banda Aceh - Peran perempuan dalam menjaga perdamaian Aceh kembali diangkat melalui film dokumenter Inong Peudame-Together, We Were Brave yang diputar di Orion Hall, Aceh Besar, Rabu, 30 September 2026.

Pemutaran film tersebut digelar dalam momentum Hari Perdamaian Internasional sekaligus memperingati 21 tahun penandatanganan Kesepakatan Helsinki.

Kegiatan diselenggarakan UN Women Indonesia bersama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) serta AMAN Indonesia, dengan dukungan Pemerintah Australia.

Film berdurasi sekitar 30 menit itu mengangkat kisah aktivis perempuan, penyintas konflik, tokoh masyarakat, kelompok perempuan akar rumput, hingga penggerak komunitas dalam perjalanan panjang perdamaian Aceh.

Staf Ahli Bidang Keistimewaan Aceh, SDM dan Hubungan Kerja Sama, Husnan, mengatakan kontribusi perempuan menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang aman dan adil.

Menurutnya, perempuan tidak hanya menjadi kelompok yang terdampak konflik, tetapi juga berperan sebagai penggerak komunitas, pelaku aksi kemanusiaan, penjaga warga, serta bagian dari proses pembangunan perdamaian.

“Perempuan bukan hanya menjadi bagian dari masyarakat yang mengalami berbagai tantangan atau konflik, tetapi juga hadir sebagai penjaga warga, penggerak komunitas, pelaku kemanusiaan, dan bagian dari perempuan yang membangun perdamaian,” ujarnya.

Husnan menilai pengalaman dan suara perempuan perlu terus didengar serta diterjemahkan dalam kebijakan dan pembangunan. Menurutnya, peran tersebut semakin penting ketika Aceh menghadapi berbagai tantangan kebencanaan.

Ia menyebut ketangguhan masyarakat tidak hanya dibangun melalui pemerintah, tetapi juga melalui keluarga dan komunitas. Dalam kondisi bencana, perempuan memiliki posisi strategis dalam perlindungan, pemulihan, komunikasi, dan penguatan ketahanan keluarga.

“Karena itu, dialog kebijakan setelah pemutaran film ini menjadi ruang yang sangat berharga untuk memperkuat keterlibatan dan kepemimpinan perempuan,” katanya.

Husnan berharap film Inong Peudame tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi menjadi media pembelajaran bagi generasi muda untuk memahami sekaligus meneruskan nilai-nilai perdamaian Aceh.

Ia juga mengingatkan pentingnya memahami akar konflik masa lalu agar pengalaman tersebut dapat menjadi pembelajaran dalam menjaga perdamaian yang telah dibangun.

“Pemerintah Aceh akan terus membuka ruang partisipasi yang bermakna bagi perempuan dalam pembangunan,” ujarnya.

Menurutnya, suara dan pengalaman perempuan perlu terus ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan Aceh dalam mempertahankan perdamaian sekaligus menghadapi tantangan pembangunan dan kebencanaan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....