Desainmu Itu-Itu Aja? Coba 10 Inspirasi Style Ini!
- 15 Sep 2026 17:42 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Logo bukan cuma soal menaruh nama brand lalu memilih font yang terlihat bagus. Bentuk huruf, ketebalan garis, tekstur, warna, bahkan cara sebuah huruf dibuat bisa langsung mengubah kesan sebuah brand. Ada logo yang terlihat playful, ada yang terasa premium, ada yang sengaja dibuat seperti gambar tangan, dan ada juga yang bentuknya begitu unik sampai langsung menarik perhatian. Karena itu, sebelum mulai mencari template atau menyusun elemen di Canva, ada baiknya mengenali dulu gaya visual seperti apa yang ingin digunakan. Dengan tahu karakternya, proses mencari referensi dan menentukan arah desain bisa jauh lebih mudah.
Salah satu gaya yang cukup ekspresif adalah Expressive, yaitu logo dengan bentuk huruf yang berani, unik, dan sering kali mengalami perubahan bentuk dari tipografi biasa. Huruf bisa dibuat melengkung, dipanjangkan, ditumpuk, atau diberi bentuk yang hampir menyerupai ilustrasi.

Ada juga Hand-Drawn, yang sengaja mempertahankan kesan seperti dibuat menggunakan tangan. Garis yang tidak terlalu sempurna justru menjadi daya tariknya karena membuat logo terasa lebih personal, human, dan tidak terlalu formal. Kedua gaya ini cocok untuk brand yang ingin terlihat kreatif, dekat, dan punya karakter yang kuat.

Kalau ingin sesuatu yang lebih sederhana, ada Minimal Twist. Namanya memang minimal, tetapi bukan berarti membosankan. Biasanya gaya ini menggunakan bentuk dasar yang sederhana lalu diberi satu detail unik, seperti potongan pada huruf, simbol tersembunyi, atau permainan ruang negatif.

Sementara itu, Fun Chunky menggunakan bentuk huruf yang tebal, bulat, dan berani sehingga memberikan kesan playful serta mudah diingat. Gaya seperti ini cocok untuk brand makanan, lifestyle, produk anak muda, atau bisnis yang ingin terlihat friendly tanpa kehilangan identitas visual.

Kemudian ada Retro Print, yang mengambil inspirasi dari desain cetak lama seperti poster, kemasan, dan identitas bisnis klasik. Ciri khasnya bisa berupa tipografi vintage, bentuk badge, tekstur cetak, atau komposisi yang terasa seperti hasil printing zaman dulu.

Berbeda dengan itu, Organic Curves lebih banyak bermain dengan bentuk lengkung dan garis yang mengalir. Bentuknya terasa lebih natural, lembut, dan fleksibel sehingga sering cocok untuk brand yang ingin membawa kesan alami, wellness, kecantikan, makanan, atau produk berbasis alam.

Buat yang justru suka desain ramai, ada Bubbly Maximalism. Gaya ini menggunakan bentuk-bentuk yang menggelembung, tidak kaku, dan bisa dipadukan dengan banyak elemen sekaligus. Huruf dapat saling bertumpuk, melengkung, atau berubah menjadi bentuk yang hampir seperti ilustrasi. Hasilnya terasa berani, energik, dan playful.

Sebaliknya, Statement Serif mengambil pendekatan yang lebih elegan dengan menggunakan serif sebagai elemen utama. Dengan proporsi huruf yang kuat dan komposisi yang rapi, gaya ini bisa memberikan kesan sophisticated, klasik, premium, atau editorial.

Kalau ingin membawa nuansa digital, Pixelated bisa menjadi pilihan. Gaya ini menggunakan bentuk kotak-kotak atau efek pixel yang mengingatkan pada teknologi, game, dan visual komputer generasi awal. Karakternya lebih eksperimental dan cocok untuk brand yang ingin terlihat modern, digital, atau sedikit nostalgic.

Sementara itu, Freestyle Mascot menggabungkan logo dengan karakter atau ilustrasi yang dibuat lebih bebas. Tidak harus selalu berupa maskot yang sangat detail, karena bentuk sederhana yang unik pun bisa menjadi wajah sebuah brand. Gaya ini cocok untuk bisnis yang ingin memiliki identitas yang lebih ramah dan mudah dikenali secara visual.
Menariknya, tidak ada satu style yang otomatis lebih bagus daripada yang lain. Logo yang terlihat keren di sebuah coffee shop belum tentu cocok untuk firma hukum, begitu juga logo playful belum tentu cocok untuk brand yang ingin terlihat eksklusif. Dalam proses pengembangan identitas visual, AIGA (American Institute of Graphic Arts) menempatkan tujuan, konteks, dan target audience sebagai bagian penting yang perlu dipertimbangkan sebelum menentukan arah visual sebuah brand. Karena itu, saat membuka Canva, jangan langsung bertanya, “Template mana yang paling bagus?” Coba mulai dengan pertanyaan yang lebih penting: “Brand ini mau terasa seperti apa?” Dari situ, barulah pilih apakah ingin expressive, hand-drawn, minimal, chunky, retro, organic, maximalist, serif, pixelated, atau freestyle mascot.
Temukan lebih banyak inspirasi desain, tips kreatif, dan referensi visual yang bisa langsung kamu coba hanya di RRI Lhokseumawe.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....