Capekmu, Apakah Kamu Suka Alasannya?
- 15 Sep 2026 17:43 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Pernah pulang setelah hari yang panjang, badan rasanya sudah habis, tetapi anehnya hati masih merasa cukup puas? Lalu di hari lain, kamu mungkin hanya melakukan beberapa hal sederhana tetapi rasanya jauh lebih melelahkan karena sepanjang hari bertanya-tanya, “Aku sebenarnya ngapain, ya?” Dua-duanya sama-sama membuat tubuh capek, tetapi rasanya ternyata bisa sangat berbeda. Ada lelah yang membuat kita berpikir, “Oke, hari ini berat, tapi memang ini yang sedang aku perjuangkan.” Ada juga lelah yang justru membuat kita ingin bertanya apakah semua energi yang dikeluarkan benar-benar sepadan.
Pertanyaan yang menarik datang dari Anne Hathaway: “When you get a little bit tired, do you like the reason you're tired? I'm really into the reason I'm tired” Intinya sederhana, ketika kamu mulai merasa lelah, apakah kamu menyukai alasan yang membuatmu lelah? Kutipan ini kembali banyak dibagikan karena terasa sangat relatable, terutama bagi orang-orang yang sedang sibuk bekerja, mengejar target, membangun sesuatu, atau berusaha mencapai tujuan tertentu. Namun pertanyaan tersebut sebenarnya bukan ajakan untuk memuja kelelahan. Justru ini seperti sebuah jeda untuk melihat kembali apa yang sedang kita lakukan dan mengapa kita rela menghabiskan begitu banyak tenaga untuk itu.
Sebab tidak semua rasa lelah memiliki cerita yang sama. Kamu bisa lelah setelah menyelesaikan proyek yang sudah kamu tunggu berbulan-bulan, lelah setelah belajar untuk sesuatu yang memang ingin kamu capai, atau lelah setelah menghabiskan satu hari bersama orang-orang yang kamu sayangi. Rasa capeknya tetap nyata, tetapi ada kepuasan karena energi yang dikeluarkan terasa memiliki tujuan. Sebaliknya, ada lelah yang muncul karena terus melakukan sesuatu yang tidak lagi terasa berarti, terus memenuhi ekspektasi orang lain, atau terus mempertahankan sesuatu hanya karena takut berhenti. Dalam kondisi seperti itu, yang melelahkan mungkin bukan hanya aktivitasnya, tetapi juga perasaan bahwa kita tidak tahu untuk apa semua ini dilakukan.
Meski begitu, menyukai alasan di balik lelah bukan berarti kita harus menerima semua bentuk kelelahan. Tidur dan istirahat tetap penting, bahkan ketika kita sangat menyukai pekerjaan atau tujuan yang sedang dikejar. Kita tidak perlu bangga karena tidur hanya beberapa jam, bekerja tanpa jeda, atau selalu merasa produktif. Pertanyaan Anne Hathaway lebih menarik jika dipakai sebagai alat refleksi, bukan sebagai pembenaran untuk terus memaksakan diri. Kita bisa bertanya, “Aku capek karena sedang membangun sesuatu yang memang kuinginkan, atau karena aku tidak tahu bagaimana mengatakan tidak?”
| Baca juga: Fenomena Director's Cut pada Film |
Kadang jawabannya juga tidak harus langsung berupa keputusan besar. Kalau kita mulai menyadari bahwa alasan di balik lelah sudah tidak kita sukai, bukan berarti besok kita harus resign, meninggalkan semuanya, atau mengubah hidup secara drastis. Bisa dimulai dengan melihat bagian mana yang sebenarnya paling menguras energi, apa yang masih ingin dipertahankan, dan apa yang mungkin bisa dikurangi. Mungkin yang perlu diubah bukan seluruh hidup, tetapi cara kita menjalani sebagian kecil di dalamnya. Bahkan sekadar menyadari bahwa kita sedang terlalu banyak memberikan energi pada sesuatu sudah bisa menjadi langkah pertama untuk membuat batas yang lebih sehat.
Menariknya, pertanyaan ini juga bisa berlaku di luar pekerjaan. Kita bisa lelah mempertahankan pertemanan, lelah mengejar standar tertentu, lelah terus terlihat baik-baik saja, atau lelah mencoba menjadi versi diri yang menurut kita akan disukai orang lain. Kalau setiap hari terasa seperti sedang memainkan peran yang tidak lagi cocok, mungkin yang perlu ditanyakan bukan hanya “Kenapa aku capek?”, tetapi “Untuk siapa aku melakukan semua ini?” Karena terkadang kita bukan kekurangan energi. Kita hanya terlalu lama menghabiskan energi untuk sesuatu yang sebenarnya tidak lagi kita pilih.
Pada akhirnya, mungkin kita memang tidak bisa menjalani hidup tanpa merasa lelah. Akan selalu ada deadline, tanggung jawab, masalah, perjalanan panjang, dan hari-hari ketika semuanya terasa berat. Tetapi sesekali, tidak ada salahnya berhenti sebentar dan melihat kembali alasan di balik semua tenaga yang kita keluarkan. Kalau jawabannya membuat kita berkata, “Iya, ini memang melelahkan, tapi aku tahu kenapa aku melakukannya,” mungkin ada sesuatu yang masih layak diperjuangkan. Namun kalau jawabannya justru membuat kita terdiam lama, mungkin itu juga informasi yang penting. Bukan untuk menyalahkan diri sendiri, tetapi untuk mulai bertanya apakah sudah waktunya memilih alasan yang lebih kita sukai.
Temukan lebih banyak cerita tentang kehidupan, pekerjaan, dan pertanyaan-pertanyaan kecil yang ternyata dekat dengan keseharian kita hanya di RRI Lhokseumawe.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....