Jangan Ngaku Pecinta Hewan kalau Masih Ketuker!

  • 14 Sep 2026 11:14 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Pernah melihat seekor hewan lalu yakin, “Oh, itu pasti buaya,” padahal ternyata bukan? Atau melihat hewan berbulu di pegunungan dan masih bingung, itu alpaka atau llama? Tenang, kita tidak sendirian. Ada cukup banyak hewan yang terlihat mirip sehingga sering dianggap sama. Padahal, kalau diperhatikan sedikit lebih dekat, mereka punya ciri yang cukup berbeda.

Buaya atau alligator?

Keduanya sama-sama termasuk kelompok crocodilian, tetapi bukan hewan yang sama. Salah satu cara paling mudah membedakannya adalah melihat bentuk moncong dan gigi. Menurut Smithsonian's National Zoo, alligator memiliki moncong yang lebih lebar dan membulat, sementara crocodile umumnya memiliki moncong yang lebih panjang dan sempit. Perbedaan lain bisa dilihat dari giginya: pada alligator, gigi besar keempat di rahang bawah masuk ke dalam soket di rahang atas sehingga tidak terlihat ketika mulut tertutup. Pada crocodile, gigi tersebut tetap dapat terlihat. Jadi, kalau selama ini kita membedakan keduanya hanya dari “yang kelihatan lebih serem”, ternyata ada cara yang lebih ilmiah.

Turtle atau tortoise?

31.33%

Dalam bahasa Indonesia, keduanya sering sama-sama disebut kura-kura. Padahal dalam bahasa Inggris, turtle dan tortoise merujuk pada kelompok yang berbeda. Menurut Smithsonian Institution, sebagian besar turtle hidup di air atau setidaknya menghabiskan sebagian hidupnya di lingkungan perairan. Sementara tortoise pada dasarnya hidup di darat. Bentuk tempurungnya juga cenderung berbeda: tempurung tortoise biasanya lebih tinggi dan membulat, sedangkan banyak turtle memiliki tempurung yang lebih pipih. Namun, Smithsonian juga mengingatkan bahwa selalu ada pengecualian. Jadi kalau melihat kura-kura sedang santai di kolam, kemungkinan besar ia termasuk turtle. Kalau lebih sering berjalan-jalan di daratan, bisa jadi ia adalah tortoise.

Butterfly atau moth?

70.85%

Sama-sama punya sayap dan mengalami metamorfosis. Bahkan keduanya termasuk dalam ordo Lepidoptera. Lalu, apa bedanya? Salah satu petunjuk yang paling mudah dilihat adalah antena. Smithsonian menjelaskan bahwa kupu-kupu umumnya memiliki antena dengan ujung seperti gada kecil, sedangkan ngengat biasanya memiliki antena yang lebih tipis atau berbulu. Dan jangan terlalu percaya pada anggapan bahwa kupu-kupu selalu berwarna cerah sedangkan ngengat selalu cokelat. Smithsonian mencatat bahwa ada banyak ngengat dengan warna dan pola yang spektakuler. Yang lebih mengejutkan, jumlah spesies ngengat juga jauh lebih banyak. Smithsonian memperkirakan ada sekitar 160.000 spesies ngengat di dunia, dibandingkan sekitar 17.500 spesies kupu-kupu. Jadi, secara jumlah, kupu-kupu justru punya "saudara" yang jauh lebih banyak.

Seal atau sea lion?

Kalau melihat dua-duanya dari jauh, wajar kalau kita bingung. Sama-sama mamalia laut, sama-sama punya sirip, dan sama-sama punya wajah yang seolah selalu siap masuk dokumenter National Geographic. Tapi ada satu trik yang cukup mudah: lihat telinganya. Menurut Smithsonian Ocean, sea lion memiliki daun telinga kecil yang terlihat dari luar, sedangkan true seal tidak memiliki daun telinga luar dan hanya memiliki lubang telinga kecil. Cara mereka bergerak juga berbeda. Sea lion dapat memutar sirip belakangnya ke bawah tubuh sehingga bisa menopang badan dan bergerak seperti berjalan di darat. Sementara seal tidak bisa melakukan hal tersebut dan biasanya bergerak dengan menggeliat menggunakan tubuhnya. Di dalam air, sea lion lebih banyak menggunakan sirip depan untuk berenang, sedangkan seal mengandalkan sirip belakang. Jadi, kalau melihat hewan laut yang tampak seperti sedang “jalan” di daratan, kemungkinan besar kamu sedang melihat sea lion.

Cheetah atau leopard?

Dua-duanya kucing besar dengan tubuh berbintik. Tapi jangan sampai salah menyebut cheetah sebagai leopard. Cheetah memiliki tubuh yang lebih ramping dan kaki yang panjang. Ciri paling gampang dikenali adalah garis hitam seperti air mata yang membentang dari sudut mata menuju mulut. Menurut Smithsonian's National Zoo, leopard memiliki tubuh yang jauh lebih kekar, pola roset pada bulunya, dan tidak memiliki garis air mata seperti cheetah. Bahkan bentuk tubuh mereka mencerminkan gaya hidup yang berbeda. Cheetah memiliki tubuh yang dirancang untuk mengejar mangsa dengan kecepatan tinggi, sedangkan leopard lebih kekar dan dikenal sebagai pemanjat yang baik. Jadi kalau melihat kucing besar berbintik, coba lihat wajahnya dulu. Kalau ada “eyeliner” hitam alami di bawah mata, kemungkinan besar itu cheetah.

Alpaka atau llama?

Nah, ini salah satu yang paling sering bikin bingung. Alpaka dan llama sama-sama berasal dari Amerika Selatan dan masih berada dalam keluarga Camelidae. Namun, keduanya punya ukuran dan fungsi yang berbeda. Menurut Smithsonian's National Zoo, alpaka merupakan camelid domestik berukuran relatif kecil yang banyak dipelihara untuk menghasilkan serat lembut. Alpaka memiliki tubuh yang ramping, leher panjang, kepala kecil, dan bulu yang sangat tebal. Llama, di sisi lain, berukuran lebih besar dan secara tradisional digunakan sebagai hewan pembawa barang. Smithsonian juga mencatat bahwa alpaka lebih kecil daripada kerabat llamanya dan terlalu kecil untuk digunakan sebagai hewan pengangkut beban. Jadi kalau melihat hewan berbulu dengan wajah menggemaskan, jangan langsung menyebut semuanya llama. Bisa jadi ia sebenarnya alpaka yang sedang menikmati hidup.

Lalu, kenapa kita sering keliru? Karena secara visual, hewan-hewan tersebut memang memiliki banyak kemiripan. Kita melihat bentuk tubuh, warna, habitat, atau pola tertentu, lalu otak dengan cepat memasukkannya ke kategori yang sudah kita kenal. Padahal, justru detail kecil itulah yang membedakan mereka. Bentuk moncong dan posisi gigi pada crocodilian, bentuk tempurung pada kura-kura, antena pada kupu-kupu dan ngengat, telinga pada seal dan sea lion, pola wajah cheetah, sampai ukuran tubuh alpaka dan llama, semuanya menjadi semacam “petunjuk kecil” untuk mengenali mereka. Alam ternyata punya banyak cara untuk mengatakan: “Kami memang mirip, tapi kami tidak sama.”

Jadi, lain kali kalau melihat hewan yang tampak familiar, mungkin jangan buru-buru menyebut namanya. Coba perhatikan lebih dekat. Bisa jadi selama ini kita bukan salah melihat hewan, kita hanya salah mengenali tetangganya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....