Fenomena Doomscrolling: Kenapa Kita Terus Menggulir Berita Buruk?
- 29 Jul 2026 22:45 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Pernahkah Anda berniat membuka media sosial hanya beberapa menit, tetapi akhirnya menghabiskan waktu berjam-jam membaca berita tentang bencana, konflik, krisis ekonomi, atau berbagai kabar negatif lainnya? Kebiasaan ini dikenal sebagai doomscrolling, yaitu kecenderungan untuk terus menggulir dan mengonsumsi informasi yang bernada negatif, meskipun hal tersebut membuat perasaan semakin cemas atau lelah. Fenomena ini semakin sering terjadi seiring derasnya arus informasi di era digital.
Salah satu penyebabnya adalah cara kerja otak manusia yang secara alami lebih peka terhadap ancaman dibandingkan kabar baik. Dalam psikologi, kecenderungan ini dikenal sebagai negativity bias, yaitu kecenderungan memberikan perhatian lebih besar pada informasi yang dianggap berisiko atau berbahaya. Dari sudut pandang evolusi, kemampuan tersebut membantu manusia bertahan hidup dengan lebih waspada terhadap ancaman di lingkungan. Namun, di era internet, mekanisme yang sama justru membuat kita lebih mudah terpikat oleh berita-berita negatif yang terus bermunculan.
Berdasarkan berbagai penelitian mengenai psikologi kognitif, perilaku digital, dan komunikasi massa yang dilansir dari berbagai sumber, algoritma media sosial juga berperan dalam memperkuat doomscrolling. Platform digital cenderung menampilkan konten yang mampu mempertahankan perhatian pengguna lebih lama. Berita yang memicu emosi seperti rasa takut, marah, atau penasaran sering kali memperoleh tingkat interaksi yang tinggi, sehingga lebih sering muncul di linimasa. Akibatnya, pengguna dapat terjebak dalam siklus membaca berita negatif secara terus-menerus tanpa benar-benar menyadari berapa lama waktu yang telah dihabiskan.
Meski demikian, mengikuti perkembangan informasi tetap penting. Tantangannya adalah membedakan antara mencari informasi yang memang dibutuhkan dengan terus mengonsumsi berita yang justru memperburuk kondisi emosional. Membatasi waktu membaca berita, memilih sumber informasi yang kredibel, serta menyeimbangkannya dengan aktivitas di luar layar dapat membantu mengurangi dampak negatif doomscrolling. Memberikan jeda bagi pikiran juga sama pentingnya dengan tetap mendapatkan informasi terbaru.
Fenomena ini menunjukkan bahwa di era digital, perhatian manusia menjadi komoditas yang sangat berharga. Semakin mudah informasi diakses, semakin penting pula kemampuan untuk mengendalikan apa yang kita konsumsi setiap hari. Pada akhirnya, tetap mengikuti berita adalah hal yang baik, tetapi menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan mengetahui apa yang sedang terjadi di dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....