Rampak Aceh Pukau Penonton Gelar Melayu Serumpun 2026

  • 01 Jul 2026 17:24 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Medan – Sanggar Pocut Meurah Insuen Kota Lhokseumawe sukses memukau ribuan penonton saat tampil pada Gelar Melayu Serumpun 2026 di Lapangan Merdeka, Medan, Sumatera Utara, yang berlangsung pada 27–30 Juni 2026. Penampilan tersebut menjadi salah satu representasi budaya Aceh dalam ajang yang diikuti peserta dari berbagai provinsi di Indonesia dan negara-negara serumpun.

Di bawah binaan Yulinda Sayuti, sanggar ini membawakan tari kreasi bertajuk "Rampak", sebuah pertunjukan yang dirancang khusus oleh Bira Agusti sebagai penata tari sesuai petunjuk teknis penyelenggara yang mengharuskan seluruh peserta menampilkan tarian tradisional daerah masing-masing.

Berbeda dari penampilan sebelumnya, Tari Rampak menyatukan empat unsur tari tradisional Aceh dalam satu komposisi panggung yang dinamis. Hentakan tegas Tari Seudati dipadukan dengan kelembutan gerak Ratoeh Jaroe, nuansa religius Tari Laweut, serta keceriaan langkah Zapin Aceh. Perpaduan tersebut menghadirkan sajian yang menggambarkan karakter masyarakat Aceh yang kuat, santun, religius, dan penuh kebersamaan.

Pelatih sekaligus Penata Tari, Bira Agusti, mengatakan konsep ini sengaja dibuat agar penampilan tidak monoton. Menurutnya, menggabungkan beberapa tarian tradisional dalam satu pertunjukan mampu memberikan pengalaman visual yang lebih menarik sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Aceh secara lebih utuh kepada penonton.

"Rampak dalam bahasa Aceh berarti banyak. Tarian ini menjadi simbol keberagaman gerak yang berpadu dalam satu tujuan. Dari hentakan yang tegas hingga gerakan yang lembut dan riang, semuanya menggambarkan bahwa Aceh memiliki kekayaan budaya yang harmonis," ujarnya.

Bira juga mengungkapkan, penampilan tahun ini menjadi tantangan tersendiri karena sebagian besar penarinya merupakan wajah baru yang belum memiliki pengalaman menari. Bahkan, penari laki-lakinya didominasi remaja yang sehari-hari aktif sebagai pemain sepak bola. Meski hanya menjalani latihan sekitar satu bulan, mereka mampu tampil percaya diri di panggung internasional.

Menurutnya, keterlibatan generasi muda dalam seni tradisi merupakan langkah penting untuk menjaga kelestarian budaya Aceh. Ia berharap semakin banyak anak muda yang tertarik mempelajari tari tradisional agar warisan budaya tidak hilang ditelan zaman.

Tari Rampak diakhiri dengan nuansa penuh sukacita melalui gerak Zapin Aceh sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan. Penampilan tersebut mendapat apresiasi dari penonton yang terpukau dengan kekompakan para penari serta kekayaan budaya Aceh yang ditampilkan dalam satu kesatuan pertunjukan.

Adapun Bira Agusti bertindak sebagai Penata Tari, sementara Izet Aganovic dipercaya sebagai Penata Musik dalam pertunjukan Tari Rampak.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....