Kenapa Barang Digital Terasa Tidak Nyata?
- 29 Jun 2026 14:55 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Pernah membeli film, lagu, e-book, atau aplikasi, lalu merasa seperti “tidak punya apa-apa” karena tidak ada benda yang bisa dipegang?
Padahal, uang tetap keluar dan transaksi tetap terjadi. Hanya saja, yang kita dapatkan bukan sebuah barang fisik, melainkan akses terhadap sesuatu yang tersimpan secara digital.
Fenomena ini muncul karena cara manusia memahami kepemilikan masih banyak dipengaruhi oleh benda yang terlihat. Sejak dulu, membeli sesuatu berarti membawa pulang barang yang bisa disentuh, disimpan, atau dipamerkan. Buku memiliki halaman, CD memiliki bentuk, dan pakaian bisa dikenakan. Sementara barang digital hadir dalam bentuk file, lisensi, atau akses melalui sebuah akun.
| Baca juga: Cara Membedakan Foto AI dan Foto Asli |
Menurut Harvard Business Review, ekonomi digital mengubah cara orang memahami nilai sebuah produk. Dalam banyak layanan digital, pengguna sering kali tidak benar-benar memiliki objeknya, melainkan mendapatkan hak untuk menggunakan layanan atau konten tersebut sesuai aturan yang berlaku.
Contohnya ketika membeli film melalui platform streaming. Banyak orang merasa “memiliki” film tersebut, tetapi sebenarnya yang dimiliki adalah hak akses untuk menonton selama film itu tersedia di platform tersebut. Hal serupa juga terjadi pada aplikasi, gim digital, hingga buku elektronik.
Perasaan bahwa barang digital kurang nyata juga dipengaruhi oleh tidak adanya proses fisik. Ketika membeli barang di toko, ada perjalanan yang terasa: memilih barang, membayar, membawa pulang, lalu membuka kemasannya. Sementara pembelian digital sering selesai hanya dalam beberapa klik. Cepat dan praktis, tetapi tidak memberikan pengalaman yang sama.
Menariknya, meskipun tidak berbentuk fisik, nilai barang digital tetap bisa sangat besar. Sebuah foto digital, desain, musik, atau karya seni dapat memiliki nilai ekonomi dan emosional bagi pemiliknya. Bahkan menurut World Intellectual Property Organization (WIPO), karya digital tetap termasuk bagian dari kekayaan intelektual yang memiliki perlindungan dan nilai bagi penciptanya.
Perubahan ini juga membuat konsep “memiliki” menjadi semakin luas. Saat ini, orang bisa merasa dekat dengan sesuatu yang tidak pernah mereka pegang secara langsung. Sebuah playlist lagu bisa menyimpan kenangan, akun gim bisa berisi perjalanan bertahun-tahun, dan foto digital bisa menjadi arsip momen penting.
Pada akhirnya, barang digital terasa tidak nyata bukan karena nilainya lebih kecil, tetapi karena cara kita berinteraksi dengannya berbeda. Kita sedang berpindah dari dunia yang penuh benda menuju dunia yang penuh akses.
Karena terkadang, sesuatu yang tidak bisa disentuh tetap bisa memiliki arti yang besar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....