Bibliosmia, Bau Khas Buku yang Menenangkan
- 31 Mei 2026 08:36 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Pernah masuk ke perpustakaan, toko buku, atau membuka buku lama yang sudah lama tersimpan, lalu langsung mengenali aromanya? Bau yang khas itu sering kali sulit dijelaskan, tetapi hampir semua pecinta buku tahu persis seperti apa rasanya. Menariknya, aroma tersebut ternyata bukan cuma perasaan atau sugesti semata. Bahkan, ada istilah khusus yang digunakan untuk menggambarkan aroma buku: bibliosmia.
Istilah bibliosmia merujuk pada aroma khas yang berasal dari buku, terutama buku-buku lama. Menurut penjelasan dari The British Library, bau tersebut muncul dari proses alami ketika kertas, tinta, lem, dan bahan-bahan lain yang digunakan dalam pembuatan buku mengalami degradasi seiring waktu. Proses ini menghasilkan berbagai senyawa kimia yang kemudian menciptakan aroma yang sering digambarkan sebagai perpaduan antara vanila, kayu, rumput kering, hingga sedikit aroma manis.
Menariknya, tidak semua buku memiliki aroma yang sama. Buku yang lebih tua biasanya memiliki bau yang lebih kuat karena bahan-bahannya telah mengalami proses penuaan lebih lama. Bahkan, para peneliti pernah mempelajari aroma buku untuk mengetahui kondisi dan usia koleksi perpustakaan tanpa harus merusaknya. Dengan kata lain, bau buku bukan hanya soal nostalgia, tetapi juga bisa menjadi sumber informasi.
Lalu kenapa banyak orang menyukai aroma tersebut? Menurut berbagai penelitian tentang memori dan penciuman yang dibahas oleh Harvard Medical School, indra penciuman memiliki hubungan yang sangat kuat dengan bagian otak yang mengatur emosi dan ingatan. Itu sebabnya aroma tertentu dapat langsung membawa seseorang pada kenangan tertentu. Bagi sebagian orang, bau buku mungkin mengingatkan pada masa sekolah, perpustakaan favorit, atau momen tenang saat membaca di akhir pekan.
Di era digital saat ini, ketika semakin banyak orang membaca melalui layar, pengalaman seperti ini menjadi sesuatu yang unik. E-book menawarkan kemudahan dan akses yang cepat, tetapi tidak bisa menghadirkan sensasi membalik halaman atau aroma khas yang dimiliki buku fisik. Mungkin karena itulah, di tengah perkembangan teknologi, buku cetak masih memiliki tempat tersendiri di hati banyak orang.
Pada akhirnya, bibliosmia mengingatkan bahwa membaca bukan hanya soal isi cerita. Ada pengalaman lain yang ikut menyertainya seperti tekstur halaman, suara saat lembaran dibalik, dan aroma khas yang sering kali langsung membuat seseorang merasa nyaman bahkan sebelum membaca kalimat pertama.
Kalau kamu termasuk tim buku fisik, aroma buku baru atau buku lama yang lebih kamu suka?
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....