Semua Orang Punya Second Brain
- 30 Mei 2026 10:13 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Pernah merasa menyimpan terlalu banyak hal di luar kepala? Screenshot resep yang belum pernah dicoba, video yang di-save untuk ditonton nanti, catatan ide tengah malam, hingga puluhan tab yang sengaja dibiarkan terbuka karena takut lupa. Tanpa sadar, banyak orang sekarang punya sesuatu yang sering disebut sebagai second brain—tempat untuk menyimpan informasi agar tidak perlu mengingat semuanya sendiri.
Konsep second brain sebenarnya semakin populer setelah diperkenalkan oleh produktivitas expert Tiago Forte melalui bukunya Building a Second Brain. Ide dasarnya sederhana: otak manusia tidak dirancang untuk menyimpan semua informasi, melainkan untuk memprosesnya. Karena itu, banyak orang mulai memanfaatkan aplikasi seperti Notion, Google Keep, atau bahkan folder screenshot di galeri sebagai "otak kedua" mereka.
| Baca juga: Trailer “MOTTO” Rilis, ITZY Bikin Penasaran! |
Menariknya, konsep ini sebenarnya sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dulu orang mungkin mencatat nomor telepon di buku kecil. Sekarang, kita menyimpan hampir semuanya secara digital. Dari daftar tontonan, ide bisnis, tempat makan yang ingin dikunjungi, sampai meme yang dianggap lucu. Bahkan fitur save di Instagram dan playlist di TikTok bisa dianggap sebagai bentuk second brain modern.
Namun ada satu hal yang cukup menarik. Semakin mudah menyimpan informasi, semakin banyak pula yang akhirnya tidak pernah dibuka kembali. Kita menyimpan artikel untuk dibaca nanti, video untuk ditonton nanti, dan ide untuk dikerjakan nanti. Sampai akhirnya semua itu menumpuk seperti gudang digital yang jarang disentuh.
| Baca juga: Kenapa Game Santai Justru Lebih Nagih? |
Fenomena ini bahkan memiliki istilah tersendiri, yaitu digital hoarding atau kebiasaan menimbun informasi digital. Menurut beberapa penelitian yang dibahas oleh Harvard Business Review, terlalu banyak informasi yang tersimpan justru bisa membuat seseorang merasa kewalahan dan kesulitan menemukan apa yang benar-benar penting.
Karena itu, memiliki second brain bukan sekadar soal menyimpan sebanyak mungkin informasi. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mengelolanya. Informasi yang berguna adalah informasi yang bisa ditemukan kembali saat dibutuhkan, bukan yang tenggelam di antara ribuan screenshot dan bookmark.
Di era ketika hampir semua hal bisa disimpan, mungkin tantangannya bukan lagi mengingat sesuatu. Tantangannya justru memilih apa yang layak untuk diingat.
Kalau dipikir-pikir, berapa banyak hal yang kamu simpan minggu ini... dan berapa yang benar-benar kamu buka lagi?
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....