Tahun 2026, Semuanya Harus Terlihat Estetik
- 21 Apr 2026 08:50 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Scroll sebentar di media sosial, rasanya semua hal sekarang harus “enak dilihat”. Meja kerja ditata rapi dengan tone warna senada, kopi disajikan dengan foam yang simetris, sampai catatan harian pun dibuat seindah mungkin. Bukan cuma soal fungsi lagi, tapi soal visual.
Pertanyaannya, sejak kapan estetik jadi sepenting ini? Fenomena ini sebenarnya bukan muncul tiba-tiba. Platform seperti Instagram dan TikTok pelan-pelan membentuk cara kita melihat dunia. Bukan cuma sebagai sesuatu yang dijalani, tapi juga sesuatu yang “ditampilkan”. Menurut berbagai laporan tren digital seperti yang sering dibahas di We Are Social, konsumsi konten visual memang terus meningkat dan memengaruhi standar kita terhadap apa yang dianggap menarik. Akhirnya, estetik bukan lagi bonus. Dia jadi semacam “standar baru”.
Kita mulai melihat perubahan kecil seperti orang memilih kafe bukan karena kopinya enak, tapi karena tempatnya fotogenik. Produk dibeli bukan cuma karena kualitasnya, tapi karena packaging-nya “gemes”. Bahkan rutinitas harian pun terasa perlu dikurasi biar terlihat rapi, terarah, dan layak di-post. Di satu sisi, ini bukan hal yang sepenuhnya buruk. Estetik bisa jadi bentuk self-expression. Cara seseorang menyusun ruang, memilih warna, atau menampilkan dirinya bisa jadi refleksi identitas. Dalam konteks ini, estetik memberi ruang untuk kreativitas, hal yang sebelumnya mungkin gak terlalu diperhatikan.
Tapi di sisi lain, ada garis tipis yang sering gak kita sadari. Ketika semuanya harus terlihat bagus, pelan-pelan kita mulai merasa “kurang” kalau sesuatu terlihat biasa saja. Meja kerja yang berantakan jadi terasa salah. Hari yang gak produktif jadi terasa gagal. Bahkan momen sederhana pun seolah kurang berarti kalau gak sempat diabadikan dengan “cantik”. Di titik ini, estetik bukan lagi tentang ekspresi, tapi tentang tekanan.
Menariknya, beberapa diskusi di forum seperti Reddit sering menyinggung hal ini: bagaimana tren estetik justru bikin orang lelah karena merasa harus terus “rapi” di depan publik. Bukan karena mereka ingin, tapi karena merasa itu yang diharapkan. Jadi, estetik itu penting atau cuma tren? Estetik bisa penting, kalau dia membantu kita menikmati hal-hal kecil, bikin kita lebih mindful, atau jadi cara kita mengekspresikan diri. Tapi dia juga bisa jadi sekadar tren kalau yang kita kejar cuma validasi visual tanpa benar-benar menikmatinya.
Pada akhirnya, mungkin yang perlu kita tanyakan bukan “ini estetik atau nggak”, tapi ini masih jujur nggak sama diri kita? Karena gak semua hal harus terlihat sempurna untuk bisa berarti.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....