Sineas Muda Aceh Berbagi Kisah Sukses Perfilman
- 29 Mar 2026 20:17 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Dunia perfilman nasional kini semakin berwarna dengan kehadiran talenta muda dari daerah yang berhasil menembus pasar industri film di Jakarta. Iqbal Ar-Rasyid, seorang pemuda asal Aceh yang juga seorang asisten produksi sekaligus pendiri komunitas Rakan Film, membagikan perjalanan kariernya yang inspiratif dalam program "Ngobras" (Ngobrol Komunitas) di kanal Pro Satu RRI Lhokseumawe, pada Sabtu, 28 Maret 2026.
Berawal dari hobi menonton film Bollywood dan ketertarikan pada visual, Iqbal kini telah terlibat dalam berbagai produksi film layar lebar ternama di tanah air. Perjalanan Iqbal dimulai sejak duduk di bangku SMP di Jakarta, di mana ia aktif mengikuti ekstrakurikuler jurnalistik dan teater.
Pengalaman tersebut menumbuhkan kecintaannya pada seni sinematografi yang dianggapnya sebagai paket lengkap dari berbagai unsur seni. Setelah menyelesaikan studi komunikasi di Universitas Malikussaleh, ia memutuskan untuk merantau kembali ke Jakarta demi memperdalam ilmu perfilman melalui berbagai lokakarya dan praktik langsung di lapangan.
Dalam obrolan tersebut, Iqbal menceritakan pengalaman perdananya masuk ke industri profesional sebagai stuntman dalam film kolaborasi Jepang-Indonesia berjudul "The Man from the Sea" yang syuting di Aceh pada tahun 2017. Ketangguhan dan tekadnya menarik perhatian produser, hingga akhirnya ia dipercaya menjadi asisten produksi (Production Assistant) dalam film hit "Dua Garis Biru". Sejak saat itu, kariernya terus menanjak dengan keterlibatan dalam berbagai genre film, termasuk film horor seperti "Almarhum" dan "Munafik" versi Indonesia.
Iqbal menekankan bahwa bekerja di industri film membutuhkan mental dan fisik yang sangat kuat karena jadwal syuting yang ekstrem. "Dunia perfilman ini memang harus kuat mental. Kita bisa syuting hingga 24 jam dan hanya beristirahat selama tiga atau empat jam saja," ungkap Iqbal Ar-Rasyid saat diwawancarai oleh presenter Nanda Feriana.
Menurutnya, dedikasi dan passion adalah kunci utama untuk bertahan di tengah tekanan industri yang begitu tinggi. Selain berkiprah di Jakarta, Iqbal tidak melupakan tanah kelahirannya dengan mendirikan komunitas Rakan Film pada tahun 2015. Wadah ini bertujuan untuk menampung ide kreatif sineas lokal Aceh agar tetap produktif menghasilkan karya, baik film fiksi maupun dokumenter.
Salah satu karya membanggakan mereka adalah "The Impossible of Dream" yang berhasil masuk nominasi festival film mahasiswa tingkat nasional, membuktikan bahwa talenta Aceh mampu bersaing di kancah luar daerah.
Terkait tantangan di daerah, Iqbal menyoroti pentingnya dukungan fasilitas bagi pertumbuhan industri kreatif di Aceh. Ia berharap pemerintah dan pengusaha lokal dapat menghadirkan kembali bioskop di Aceh dengan manajemen yang tetap menghormati syariat Islam.
"Adakan bioskop kembali di Aceh. Hal itu bisa diatur dengan manajemen yang sesuai dengan regulasi daerah, karena ini sangat menjanjikan untuk hiburan dan apresiasi karya," tambahnya.
Menutup perbincangan, Iqbal memberikan pesan bagi generasi muda Aceh yang ingin terjun ke dunia film agar jangan pernah berhenti bermimpi dan terus membangun relasi. Baginya, teknologi saat ini sudah sangat memudahkan siapa saja untuk memulai karya sinematografi hanya dengan menggunakan ponsel pintar.
Dengan semangat belajar yang tinggi dan jaringan yang luas, peluang untuk sukses di industri perfilman nasional kini terbuka lebar bagi siapa saja yang berani mencoba.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....