Tren Inner Child, Gaya Hidup Gen Z

  • 26 Mar 2026 17:52 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Fenomena healing my inner child kini menjadi tren di kalangan Generasi Z. Istilah ini merujuk pada upaya individu memahami dan menyembuhkan luka emosional yang terbentuk sejak masa kanak-kanak. Dalam psikologi, konsep inner child sendiri merupakan bagian kepribadian yang menyimpan pengalaman, emosi, dan memori masa kecil yang memengaruhi perilaku saat dewasa.

Tren ini semakin populer seiring meningkatnya kesadaran anak muda terhadap kesehatan mental. Aktivitas healing tidak lagi sekadar rekreasi, tetapi menjadi cara untuk mengelola stres, kecemasan, hingga tekanan sosial yang banyak dialami Gen Z.

Berikut beberapa bentuk tren healing my inner child di kalangan Gen Z:

1. Membeli Barang Nostalgia

Gen Z kerap membeli barang yang mengingatkan pada masa kecil seperti boneka, mainan, atau barang lucu. Fenomena ini disebut sebagai cara menghadirkan kembali rasa aman dan bahagia dari masa lalu.

2. Self-Care dan Me Time

Aktivitas sederhana seperti menonton film favorit, journaling, hingga meditasi menjadi cara populer untuk menenangkan diri. Penelitian menunjukkan praktik self-healing membantu regulasi emosi dan kesejahteraan psikologis.

3. Healing ke Alam atau Traveling

Berlibur ke alam terbuka, seperti pantai atau gunung, dianggap mampu meredakan stres dan meningkatkan suasana hati. Aktivitas ini terbukti berkontribusi pada keseimbangan mental Gen Z.

4. Mengikuti Konten Self-Improvement di Media Sosial

Media sosial menjadi sumber inspirasi healing, mulai dari konten motivasi hingga edukasi kesehatan mental. Namun, penelitian juga menyoroti pentingnya literasi digital agar tidak terjebak pada tren semata.

5. Refleksi Diri dan Inner Work

Sebagian Gen Z mulai melakukan refleksi mendalam, seperti mengenali trauma masa kecil dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri.

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa healing tidak boleh hanya menjadi tren sesaat. Healing yang efektif adalah proses jangka panjang yang membutuhkan kesadaran diri, bahkan bantuan profesional jika diperlukan. Fenomena ini menunjukkan bahwa Generasi Z semakin terbuka terhadap isu kesehatan mental. Namun, penting untuk memahami bahwa healing my inner child bukan sekadar gaya hidup, melainkan proses pemulihan emosional yang membutuhkan pemahaman mendalam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....