Mengulik Sejarah Ketupat Simbol Lebaran Penuh Makna
- 22 Mar 2026 14:08 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhoksemawe - Ketupat menjadi salah satu hidangan khas yang selalu hadir saat perayaan Idul Fitri di Indonesia. Namun di balik bentuknya yang unik, ternyata ketupat menyimpan sejarah panjang serta makna filosofis yang mendalam, khususnya pada anyaman janur yang membungkusnya.
Dilansir dari Antara News, ketupat telah dikenal sejak abad ke-15 dan erat kaitannya dengan dakwah Islam di Pulau Jawa oleh Sunan Kalijaga, salah satu tokoh Wali Songo yang memperkenalkan tradisi ini sebagai bagian dari perayaan Lebaran.
Ketupat sendiri dibuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa muda atau janur, lalu direbus hingga padat. Bentuk anyaman ini bukan sekadar estetika, melainkan memiliki nilai simbolik yang kuat dalam budaya masyarakat.
Penggunaan janur dipilih karena mudah dibentuk dan banyak ditemukan di wilayah pesisir. Selain itu, anyaman janur melambangkan kesalahan dan kekhilafan manusia yang saling terkait, sementara isi ketupat yang berwarna putih mencerminkan hati yang bersih setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan.
Sejarah mencatat, tradisi ketupat juga merupakan hasil akulturasi budaya lokal dengan ajaran Islam. Sebelum Islam berkembang, masyarakat Nusantara telah mengenal tradisi serupa yang kemudian diadaptasi menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan dalam perayaan Lebaran.
Sunan Kalijaga memanfaatkan ketupat sebagai media dakwah dengan pendekatan budaya, sehingga ajaran Islam dapat diterima masyarakat secara lebih luas tanpa menghilangkan tradisi yang telah ada. Tradisi ini kemudian berkembang menjadi “Lebaran Ketupat” yang biasanya dirayakan beberapa hari setelah Idul Fitri.
Bentuk anyaman ketupat bukan hanya sekadar pembungkus makanan, tetapi juga mengandung pesan tentang kesederhanaan, kebersamaan, serta makna saling memaafkan yang menjadi inti dari perayaan Lebaran.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....