Perjuangan Nakes Menjaga Layanan Kesehatan di Pedalaman Aceh Utara

  • 31 Jul 2026 06:00 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Aceh Utara - Jalan tanah berbatu membentang di hadapan. Kendaraan yang kami tumpangi sesekali harus melambat untuk melewati tanjakan curam dan tikungan sempit yang di sisi lainnya langsung menghadap jurang. Di beberapa titik, rimbunnya pepohonan menutupi cahaya matahari. Kawasan ini juga dikenal sebagai lintasan gajah liar yang kerap melintas dari hutan menuju permukiman warga.

Inilah rute yang harus ditempuh menuju Puskesmas Pembantu (Pustu) Jabal Antara di Dusun Jabal Antara, Desa Alue Dua, Kecamatan Nisam Antara, Kabupaten Aceh Utara. Dari Puskesmas Nisam Antara, perjalanan memakan waktu sekitar satu jam dalam kondisi cuaca cerah. Ketika musim hujan tiba, waktu tempuh bisa jauh lebih lama karena jalan berubah menjadi lumpur tebal yang sulit dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

Jabal Antara merupakan salah satu wilayah pedalaman Aceh Utara yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bener Meriah. Jarak dan kondisi geografis menjadikan kawasan ini memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam menghadirkan pelayanan dasar seperti kesehatan.

Meski demikian, medan yang berat tidak pernah menjadi alasan bagi tenaga kesehatan untuk menghentikan pelayanan kepada masyarakat.

Kepala Puskesmas Nisam Antara, Epie Aprianty, mengatakan akses menuju Jabal Antara memang semakin sulit sejak banjir besar melanda Aceh beberapa waktu lalu. Sejumlah ruas jalan mengalami kerusakan sehingga perjalanan menjadi lebih berat dibandingkan sebelumnya.

"Sudah pasti agak susah ya jangkauan kita ke sana. Tetapi bukan berarti pelayanan terhadap masyarakat kita di sana berhenti. Di sana kita punya dua tenaga kesehatan yang meng-cover pelayanan ibu hamil, persalinan, bayi, balita, serta pelayanan kesehatan masyarakat," kata Epie kepada rri.co.id kamis (21/7/2026).

Menurutnya, keberadaan tenaga kesehatan yang menetap di desa menjadi kunci agar masyarakat tetap memperoleh pelayanan tanpa harus menempuh perjalanan jauh menuju puskesmas induk. Berbagai kebutuhan pelayanan dasar, mulai dari pemeriksaan ibu hamil hingga imunisasi anak, tetap dapat dilakukan secara rutin.

Pustu Sederhana yang Menjadi Harapan Warga

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, sebuah bangunan sederhana berdiri di tengah perkampungan. Bangunan itu bukan sekadar fasilitas kesehatan, tetapi menjadi tempat pertama yang didatangi warga ketika membutuhkan pertolongan medis.

Di Pustu Jabal Antara inilah Bidan Cut Ulfa menjalankan tugasnya. Sudah hampir tiga tahun ia mengabdikan diri melayani masyarakat di wilayah pedalaman tersebut.

Selama bertugas, Cut Ulfa menangani berbagai pelayanan kesehatan, mulai dari pemeriksaan kehamilan, imunisasi bayi dan balita, pelayanan persalinan, pemeriksaan kesehatan umum hingga pengobatan bagi masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan.

"Saya mengabdi kurang lebih sudah tiga tahun lamanya," ujarnya.

Meski fasilitas yang tersedia tidak selengkap di rumah sakit atau puskesmas induk, pelayanan kepada masyarakat tetap menjadi prioritas.

"Kegiatan di sini banyak. Masyarakat datang untuk pemeriksaan ibu hamil, imunisasi, pelayanan balita hingga berobat ketika sakit. Walaupun fasilitas kami sederhana, kami berusaha memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat," katanya.

Salah satu tantangan yang sering muncul di wilayah terpencil adalah ketersediaan obat-obatan. Namun, menurut Cut Ulfa, kebutuhan tersebut hingga kini masih dapat dipenuhi dengan baik melalui distribusi dari Puskesmas Nisam Antara.

"Untuk stok obat walaupun jauh, namun obat selalu dikirim oleh Puskesmas Nisam Antara. Jadi untuk stoknya kami selalu aman," jelasnya.

Ketersediaan obat menjadi faktor penting karena masyarakat di Jabal Antara membutuhkan waktu yang cukup lama jika harus berobat ke fasilitas kesehatan yang lebih besar.

Tak Hanya Mengobati, Juga Membantu Administrasi BPJS

Pelayanan kesehatan di Jabal Antara tidak hanya berfokus pada pemeriksaan dan pengobatan. Bidan desa Saraini Tarawati juga membantu masyarakat mengurus administrasi BPJS Kesehatan agar mereka tetap dapat mengakses layanan kesehatan melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Menurut Saraini, masih banyak masyarakat yang belum memahami tata cara administrasi kepesertaan BPJS, mulai dari pendaftaran hingga perubahan data.

"Banyak masyarakat yang belum memahami administrasi BPJS. Kami membantu mulai dari pendaftaran, perubahan data, sampai memastikan mereka tetap mendapatkan akses pelayanan kesehatan melalui Mobile JKN," ujarnya.

Namun pelayanan administrasi tersebut tidak selalu berjalan mudah. Salah satu kendala terbesar adalah keterbatasan jaringan internet di desa.

"Nah iya, Pak. Kebetulan sekali di desa ini sangat sulit untuk mengakses internet. Oleh karena itu, kami juga berupaya turun ke pusat Nisam membantu mereka mengakses perubahan data melalui Mobile JKN," katanya.

Kondisi tersebut membuat tenaga kesehatan tidak hanya menjalankan tugas medis, tetapi juga menjadi pendamping masyarakat dalam mengakses layanan administrasi kesehatan yang kini sebagian besar berbasis digital.

BPJS Sangat Membantu Masyarakat

Kepala Desa Alue Dua, Syahrul, mengaku masyarakat sangat merasakan manfaat pelayanan kesehatan yang tersedia di desa, termasuk kemudahan memperoleh layanan melalui BPJS Kesehatan.

Menurutnya, bagi masyarakat pedalaman yang sebagian besar menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan perkebunan, keberadaan jaminan kesehatan sangat berarti.

"Saat ini, alhamdulillah masyarakat sangat senang dengan hadirnya kembali BPJS. Bagi masyarakat kecil, tanpa adanya BPJS tentu akan terasa sangat sulit," ujarnya.

Ia berharap pelayanan kesehatan beserta dukungan program BPJS terus berlanjut sehingga masyarakat tidak lagi khawatir ketika membutuhkan pengobatan.

Pelayanan Dekat Membawa Rasa Tenang

Keberadaan Pustu Jabal Antara menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat yang tinggal jauh dari pusat layanan kesehatan.

Fauziah, salah seorang warga, mengaku pelayanan yang hadir langsung di dusun sangat membantu keluarganya.

"Kalau harus ke kota cukup jauh. Dengan adanya pelayanan di sini kami sangat terbantu," katanya.

Hal senada disampaikan Almaira, seorang ibu muda yang rutin membawa anaknya untuk mendapatkan imunisasi dan pemeriksaan kesehatan.

"Pelayanan kesehatan di sini cukup baik. Apalagi saya punya anak kecil yang harus imunisasi dan cek kesehatan. Pokoknya sangat membantu bagi kami yang tinggal jauh dari kota," ujarnya.

Bagi masyarakat, kehadiran tenaga kesehatan bukan hanya menghadirkan layanan medis, tetapi juga rasa aman karena mereka tidak perlu selalu menempuh perjalanan panjang ketika membutuhkan pertolongan.

Pengabdian yang Menembus Batas

Perjalanan menuju Jabal Antara memperlihatkan bahwa pelayanan kesehatan di daerah terpencil membutuhkan komitmen yang lebih besar dibandingkan wilayah perkotaan. Jalan yang rusak, medan yang berat, cuaca yang tidak menentu, hingga keterbatasan jaringan komunikasi menjadi tantangan yang dihadapi hampir setiap hari.

Namun di balik seluruh keterbatasan itu, para tenaga kesehatan tetap memilih bertahan. Mereka memastikan ibu hamil memperoleh pemeriksaan, bayi mendapatkan imunisasi, anak-anak dipantau tumbuh kembangnya, masyarakat memperoleh pengobatan, dan warga tetap bisa mengakses haknya melalui BPJS Kesehatan.

Pengabdian mereka menjadi bukti bahwa pelayanan kesehatan tidak boleh berhenti hanya karena medan sulit dijangkau. Sebab kesehatan bukanlah hak yang hanya dimiliki masyarakat perkotaan, melainkan hak setiap warga negara, di mana pun mereka tinggal.

Di pelosok Aceh Utara, di balik jalan berlumpur, tanjakan terjal, dan hutan yang sunyi, dedikasi itu terus hidup. Setiap perjalanan menuju Jabal Antara bukan sekadar perjalanan menuju sebuah puskesmas pembantu, melainkan perjalanan menjaga harapan masyarakat agar tetap sehat, terlindungi, dan tidak pernah merasa ditinggalkan oleh layanan negara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....