Lissafrina, Guru yang Meniti Karir di Dunia Penyiaran

  • 12 Mei 2026 20:33 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID,Lhokseumawe - Senyum merekah terpancar dari wajah Lissafrina, S.Si saat ditemui RRI di sela kegiatannya mengikuti Uji Kompetensi Wartawan Radio (UKWR) RRI, pada Sabtu, 9 Mei 2026 di Banda Aceh beberapa waktu lalu. Perempuan muda asal Sabang itu tampak antusias menjalani rangkaian kegiatan yang menjadi bagian dari penguatan profesionalisme insan pers.

Lisa lahir di Sabang pada 1 Juni 1987. Selama ini, ia dikenal sebagai sosok yang akrab dengan dunia pendidikan. Selama 10 tahun, ia mengabdikan diri sebagai guru Sekolah Menengah Atas (SMA) sebelum akhirnya memutuskan mengambil jalan berbeda dalam karirnya.

Keputusan besar itu diambil Lisa pada tahun 2012. Sejak saat itu, Lisa banting setir ke dunia penyiaran, bidang yang sebenarnya telah lama dekat dengan kehidupannya. Ketertarikannya pada radio tumbuh sejak remaja, berawal dari kebiasaannya yang suka mendengarkan lagu dan mengirimkan salam melalui radio.

Meski menempuh pendidikan di jurusan Pendidikan Matematika, latar belakang akademik tersebut tidak lantas membawanya menetap di dunia pendidikan formal. Ketertarikannya pada dunia penyiaran membuat Lisa alih profesi dari guru, menjadi Penyiar.

Selama 13 tahun bekerja di Radio Republik Indonesia (RRI) Stasiun Produksi (SP) Sabang, hingga kini Lisa terus menekuni profesi yang dicintainya itu.

Di tengah kesibukan bekerja, Lisa harus membagi waktu untuk mengurus rumah tangga. Bersama sang suami, ia menjalani pembagian tugas agar tanggung jawab keluarga tetap berjalan seimbang di tengah tuntutan profesi yang padat. Ibu dua anak tersebut menerapkan konsep kerjasama dalam pengasuhan anak dan pekerjaan rumah.

“Kerja sebagai Penyiar itu seru. Saya bersyukur bekerja di bidang Penyiaran, bidang yang saya cintai, meski kadang - kadang harus bekerja tanpa kenal waktu dan selalu dikejar target,”ungkap Lisa.

Ia mengakui, bagi perempuan, bekerja sambil mengurus keluarga merupakan pencapaian tersendiri yang menuntut manajemen waktu serta dedikasi tinggi.

Namun hal itu tidak membuatnya gentar.

Bagi Lisa, bekerja di dunia penyiaran bukan sekadar profesi, melainkan ruang untuk terus bertumbuh dan mengembangkan diri.

Terlebih bekerja di Lembaga Penyiaran Publik seperti RRI, yang menurutnya menuntut harus serba bisa atau multitasking.

Seorang penyiar, menurut Lisa, tidak hanya dituntut piawai berbicara di depan mikrofon tetapi juga harus punya wawasan luas, memahami peralatan teknis serta mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman yang serba digital.

Ia mengaku ingin memberikan kontribusi terbaik untuk RRI, lembaga tempat ia bernaung dan mengais rezeki. Ia akan terus memberikan kineja terbaik untuk mewujudkan visi misi RRI yaitu relevan dan berdampak bagi masyarakat.

Di sisi lain, menjadi warga dari salah satu Kota Wisata di Aceh, yaitu Sabang, membentuk seorang Lisa menjadi sosok yang ramah, terbuka, toleran, dan pintar beradaptasi sekaligus lihai berkomunikasi. Menurutnya, tinggal dan bekerja di Sabang sangatlah nyaman karena kota kelahirannya itu dikenal sebagai kota yang tenang dan minim kriminalitas.

"Melalui radio, saya akan terus mempromosikan kekayaan alam Aceh, khususnya potensi wisata di Sabang yang sangat luarbiasa, "ujar Lisa. Ia berharap, Sabang semakin maju dan mendatangkan lebih banyak wisatawan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....