Ramadan ditengah Luka Aceh Utara

  • 01 Mar 2026 20:34 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID,Aceh Utara - Langit senja di Kabupaten Aceh Utara masih menyisakan jejak kelabu pascabanjir bandang 26 Februari 2026. Rumah-rumah roboh, dinding berlumpur, dan wajah-wajah letih menjadi pemandangan yang belum sepenuhnya pulih.

Di antara puing dan harapan yang sedang dirajut ulang itu, seorang perempuan tampak melangkah tenang membawa bungkusan makanan untuk berbuka puasa. Dialah Mutia Sari.

Bagi relawan asal Lhokseumawe itu, musibah orang lain adalah panggilan hati. Ramadan tahun ini tidak Ia habiskan dengan sekadar berbuka bersama keluarga, melainkan bersama para penyintas banjir.

Sudah tiga kali Ia turun langsung ke titik terdampak parah mulai dari Dusun Rumah Putih, Desa Lubok Pusaka, Langkahan; Bungkah di Aceh Utara; hingga Mane Tunong, Muara Batu. Kadang Mutia membawa hasil donasi, kadang Ia hanya membersamai tim relawan lain. Baginya, kehadiran lebih penting daripada sekadar jumlah bantuan.

Di Bungkah, nasi sate siap saji yang didukung Pertiwi Indonesia dibagikan menjelang azan magrib. Anak-anak duduk bersila di atas tikar darurat, sebagian masih mengenakan pakaian seadanya. Ketika azan berkumandang, bukan hanya makanan yang disantap—tetapi juga rasa bahwa mereka tidak sendiri. Senyum kecil di wajah para ibu menjadi hadiah paling berharga bagi Mutia.

Ramadan, menurutnya, adalah bulan di mana rahmat Allah dilipatgandakan. Berbagi iftar di lokasi bencana bukan hanya soal mengenyangkan perut, tetapi juga menguatkan jiwa.

Di tengah kehilangan lebih dari ribuan rumah dan lumpuhnya hampir seluruh wilayah terdampak, kehadiran relawan menjadi pelipur lara yang sederhana namun bermakna.

Mutia Sari, Ketua BFLF Lhokseumawe dan Aceh Utara, tidak banyak bicara tentang lelah. Ia justru berbicara tentang rencana berikutnya menuju Sara Rajah dan wilayah lain yang masih menunggu uluran tangan. “Selama ada rezeki dan kesempatan, kami akan terus hadir,” ujarnya pelan. Di tengah luka Aceh Utara, Ramadan menjadi saksi bahwa kepedulian masih tumbuh, dan harapan tak pernah benar-benar hanyut oleh banjir.

Rekomendasi Berita