Dari Ketidaksengajaan Jadi Panggilan Hati Guru SLB
- 09 Nov 2025 01:14 WIB
- Lhokseumawe
KBRN, Lhokseumawe: Tidak semua perjalanan hidup direncanakan. Ada yang berawal dari ketidaksengajaan, namun berujung menjadi panggilan hati. Begitulah kisah Mulyanti Agusna, S.Pd., Gr., seorang pendidik di SLB Cinta Mandiri, yang membagikan ceritanya dalam program “Ruang Disabilitas: Beda Tapi Setara” di Pro 1 RRI Lhokseumawe, Sabtu (8/11/2025) pagi melalui Zoom Meeting.
Mulyanti bercerita bahwa ia sama sekali tidak pernah bermimpi menjadi guru di sekolah luar biasa. “Awalnya saya hanya menemani teman saya mengajar di SLB, tapi saat berinteraksi dengan anak-anak berkebutuhan khusus, hati saya tersentuh. Sejak itu, saya ingin tetap di sana sebagai tenaga pendidik,” ujarnya mengenang awal perjalanan 12 tahun pengabdiannya.
Salah satu kenangan yang tak terlupakan adalah pertemuannya dengan seorang anak yang manja namun menggemaskan. “Anak itu membuat saya sulit melupakannya, tapi sayang ia tidak melanjutkan sekolah. Sekarang dia sudah dewasa,” tuturnya dengan nada lembut.
Menurutnya, menjadi guru SLB bukanlah perkara mudah. Tantangan terbesar justru datang ketika menghadapi emosi tantrum anak-anak autis. “Kita tidak bisa sekadar mengajar, tapi juga memahami dan menenangkan mereka dengan cara yang mereka sukai,” ujarnya. Ia kemudian menciptakan metode belajar yang menarik dengan alat peraga seperti mainan mobil-mobilan, untuk menyesuaikan cara belajar anak-anak dengan kebutuhan mereka.
Mulyanti menekankan pentingnya dukungan keluarga dalam pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus. “Apa yang diajarkan di sekolah perlu diulang di rumah. Orang tua harus jadi bagian dari proses itu,” pesannya.
Bagi Mulyanti, bekerja di SLB bukan sekadar profesi, tetapi panggilan hati yang mengajarkan arti sabar, empati, dan ketulusan. “Saya tidak pernah menyesal menjadi guru SLB. Justru di sinilah saya menemukan makna mengajar yang sesungguhnya,” pungkasnya penuh haru.