Digitalisasi Santri Menurut Harwalis, Peluang dan Tantangan
- 22 Okt 2025 22:12 WIB
- Lhokseumawe
KBRN, Lhokseumawe: Sosok santri muda bernama Harwalis menjadi salah satu wajah inspiratif dalam peringatan Hari Santri Nasional tahun ini. Lahir di Rayeuk Meunye, 17 Agustus 2000, Harwalis kini menempuh pendidikan di kelas 11 Dayah Raudhatul Ma’arif Al-Aziziyah, Cot Trueng, dan dikenal sebagai santri yang tekun, disiplin, serta aktif dalam berbagai kegiatan pesantren.
Meski masih berstatus santri, semangat belajar dan pengabdian Harwalis patut diacungi jempol. Ia merupakan lulusan S1 Ma’had Aly Raudhatul Ma’arif dan kini melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah (UIN Suna). Ketekunannya menempuh studi lanjutan di tengah kesibukan di dayah menjadi bukti bahwa semangat menimba ilmu tak mengenal batas usia atau status.
Selain fokus belajar, Harwalis juga dikenal aktif dalam organisasi santri. Ia pernah menjadi bagian dari bidang Humas Organisasi Santri, dan kini dipercaya sebagai pengurus pelayanan kesehatan santri. Melalui peran ini, ia turut berkontribusi menjaga kesehatan dan kebersamaan di lingkungan pesantren. “Santri bukan hanya belajar kitab, tapi juga harus peduli pada sesama,” ujarnya dengan rendah hati.
Bagi Harwalis, menjadi santri adalah jalan pengabdian yang penuh nilai dan makna. Ia mengaku banyak belajar tentang kesabaran, kemandirian, dan tanggung jawab dari kehidupan pesantren. “Setiap hari di dayah adalah kesempatan untuk memperbaiki diri dan memperbanyak amal,” katanya sambil tersenyum.
Dalam menghadapi era digital, Harwalis juga menekankan pentingnya santri untuk beradaptasi tanpa kehilangan nilai-nilai pesantren. Menurutnya, digitalisasi bukan ancaman, melainkan peluang untuk berdakwah dan belajar lebih luas. “Santri masa kini harus melek teknologi, tapi tetap menjaga adab. Dunia digital bisa menjadi ladang pahala kalau digunakan untuk hal-hal bermanfaat, seperti menyebarkan ilmu, dakwah, dan kebaikan,” ungkapnya dengan penuh semangat.
Kisah Harwalis menjadi pengingat bahwa semangat santri sejati tak hanya lahir dari kitab dan sajadah, tapi juga dari tekad untuk terus belajar dan mengabdi. Dari Cot Trueng, sosok muda ini membawa semangat Hari Santri Nasional untuk terus berkarya, beradaptasi dengan perkembangan zaman, dan menebar inspirasi di tengah masyarakat.