Anak Buruh Pelabuhan Ukir IPK Tertinggi
- 19 Okt 2025 22:20 WIB
- Lhokseumawe
KBRN, Lhokseumawe: Kehidupan Dinda Rabia Al Adawiyah sebagai anak rantau di Lhokseumawe jauh dari kemewahan.
Kamar kos kecil menjadi saksi bisu perjuangannya, tempat Ia belajar di bawah cahaya lampu redup sambil menahan rindu pada keluarga di Medan. Pertanyaan tulus ayahnya setiap pekan, “Uang makan sudah cukup, Nak?” menjadi mantra penguat. Sementara ayah dan ibunya berpeluh di dermaga, Dinda memikul harapan mereka dalam setiap lembar tugas dan ujian, menukarnya dengan doa dan tekad yang kuat.
Ia memilih memaksimalkan waktu untuk belajar dan berdoa, percaya bahwa keberhasilan adalah buah dari ketekunan dan keyakinan pada restu orang tua.
Tak jarang, Dinda harus menahan lapar atau menunda keinginan sederhana demi bisa bertahan hingga kiriman uang datang. Di tengah kesederhanaan itu, Ia tetap teguh mengejar cita-cita, meyakini bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berprestasi.
Setiap lembar buku yang dibaca menjadi langkah kecil menuju impiannya, dan setiap malam yang Ia lewati dengan doa menjadi bukti bahwa tekad mampu mengalahkan rasa lelah. “Aku tidak ingin perjuangan Ayah dan Ibu sia-sia,” ucapnya lirih suatu malam, menatap langit-langit kamar kos yang sederhana namun penuh harapan.
Perjuangannya di bangku kuliah membuahkan hasil. Dinda berhasil mempertahankan prestasi akademiknya dengan nilai IPK 3,97 yang nyaris sempurna . Ia dikenal sebagai sosok yang disiplin, rendah hati, dan selalu siap membantu teman-temannya belajar. Dosen-dosennya pun mengenalnya sebagai mahasiswa yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter kuat dan tangguh menghadapi tantangan. Semua itu menjadi bukti bahwa kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil.

Momen wisuda menjadi panggung pembuktian cinta dan pengorbanan. Gelar cumlaude yang kini melekat pada namanya adalah hadiah terindah, dibungkus dalam tangisan haru. “Jika aku terlahir kembali, aku tetap ingin menjadi anak kalian,” bisiknya, sebuah pengakuan tulus atas kasih yang tak terhingga.
Dinda Rabia berdiri tegak, bukan hanya sebagai lulusan berprestasi Politeknik Negeri Lhokseumawe, tetapi sebagai simbol inspirasi bahwa doa tulus orang tua, dipadu dengan semangat baja seorang anak, mampu menembus takdir, mengubah peluh menjadi mahkota kehormatan.
Kini, setelah resmi menyandang gelar sarjana terapan akuntansi, Dinda bertekad untuk terus melangkah. Ia bercita-cita melanjutkan pendidikan dan suatu hari ingin membantu anak-anak dari keluarga buruh agar tak takut bermimpi tinggi. “Aku ingin mereka tahu, bahwa tak peduli sekeras apa ombak kehidupan, selagi kita berpegang pada doa dan kerja keras, kita pasti sampai di tujuan,” ujarnya penuh keyakinan.
Dari pelabuhan sederhana hingga podium kehormatan, kisah Dinda Rabia Al Adawiyah menjadi bukti bahwa harapan tidak pernah kandas di tangan yang terus berusaha.