Bertahan atau Melepaskan: Dilema Cinta Toxic

  • 24 Sep 2025 09:32 WIB
  •  Lhokseumawe

KBRN, Lhokseumawe : Cinta seharusnya membawa kebahagiaan, rasa aman, dan kenyamanan. Namun, tidak semua hubungan berjalan seperti itu. Banyak anak muda yang tanpa sadar terjebak dalam hubungan toxic, di mana cinta yang awalnya indah berubah menjadi sumber luka. Hubungan seperti ini sering diwarnai pertengkaran, manipulasi, atau rasa tidak dihargai. Ironisnya, meski sadar ada yang salah, banyak yang tetap bertahan karena takut kehilangan atau berharap pasangan suatu hari akan berubah.

Bertahan dalam hubungan toxic sering kali terasa seperti berperang dengan diri sendiri. Ada rasa sayang yang begitu besar, tetapi juga rasa sakit yang terus menggerogoti hati. Setiap hari dipenuhi pertanyaan, “Apakah aku masih harus bertahan, atau sebaiknya melepaskan?” Tak jarang, alasan seperti kenangan indah dan janji manis membuat seseorang memilih bertahan, meski kebahagiaannya perlahan menghilang.

Namun, perlu diingat bahwa mencintai diri sendiri adalah hal yang utama. Jika hubungan lebih banyak membawa luka daripada tawa, melepaskan bisa menjadi pilihan terbaik. Melepaskan bukan berarti menyerah, melainkan bentuk keberanian untuk memilih hidup yang lebih sehat dan bahagia. Kadang, cinta sejati bukan tentang bertahan bersama, tetapi tentang berani pergi demi menghargai diri sendiri.

Pada akhirnya, keputusan untuk bertahan atau melepaskan ada di tangan masing-masing. Tetapi ingat, cinta yang sehat adalah cinta yang saling membangun, bukan yang saling menjatuhkan. Karena kita semua layak mendapatkan cinta yang tidak hanya membuat jantung berdebar, tetapi juga membuat jiwa tenang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....