Di Bawah Bendera, Ibu Muda Bertahan Hidup

  • 05 Agt 2025 12:31 WIB
  •  Lhokseumawe

KBRN, Lhokseumawe : Di bawah rindang pohon trotoar depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Kota Lhokseumawe, seorang ibu muda duduk bersimpuh di sisi parit air pembuangan warga. Namanya Nabila (24), warga Krueng Geukuh, Aceh Utara.

Sambil memangku anak balitanya yang belum bisa ditinggal, ia menjajakan bendera merah putih bukan sekadar dagangan, tapi harapan hidup untuk keluarganya.

Nabila adalah ibu dari tiga orang anak. Ia menjual bendera dengan modal hasil belanja online senilai Rp1,5 juta yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit sejak awal tahun 2025.

Berjualan dilakukan bergantian bersama suaminya, Hariana Syuhada (30), seorang tukang las harian yang tidak selalu mendapat pekerjaan.

Kepada RRI, Nabila mengatakan, Bila suaminya menganggur, mereka menjaga lapak kecil itu bersama mencoba mencari rezeki secukupnya dari semangat kemerdekaan yang sedang ramai dijual di jalanan kota “Kadang sehari cuma laku Dua atau Tiga bendera. Tapi itu pun sudah Alhamdulillah, bisa untuk bertahan,” ujar Nabila, sambil sambil tersenyum kecil dengan mata yang berharap semua akan baik - baik saja.

Pendapatan mereka tak menentu, rata-rata hanya Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per hari, itu pun bila ada pembeli. Dari jumlah itu, harus dibagi untuk kebutuhan makan, ongkos, perlengkapan sekolah anak-anak, dan kebutuhan harian lainnya.

Meski begitu, Nabila tidak pernah mengeluh. Yang terpenting baginya, anak-anak tetap bisa bersekolah dan tidak merasa lapar.

Namun bukan hanya rasa lelah dan panas matahari yang harus mereka hadapi. Ada pula rasa was-was yang selalu menghantui suara sepatu Satpol PP yang mendekat.

Bagi pedagang kaki lima seperti Nabila, setiap kedatangan petugas bisa berarti harus angkat kaki, dipindahkan paksa, atau diusir dari tempat mereka menggantungkan hidup. “Nggak ada tempat lain. Di sini ramai orang lewat. Kalau disuruh pindah, kami jualan ke mana lagi?” bisiknya pelan, menahan harap.

Nabila hanyalah satu dari banyak pedagang kecil di bulan kemerdekaan ini, yang menggantungkan hidup dari berjualan bendera merah putih. Mereka bukan pengejar untung besar. Mereka hanya ingin bertahan, hidup layak, dan melihat anak-anak mereka punya masa depan yang lebih baik.

Di balik kibaran bendera yang mereka jual, tersembunyi cerita-cerita pilu tentang kemiskinan, pengorbanan, dan harapan yang hampir padam. Sebuah ironi di tengah gegap gempita perayaan kemerdekaan.

Bagi mereka, merdeka bukan hanya cerita sejarah. Tapi perjuangan sehari-hari yang diam-diam penuh air mata, peluh, dan doa panjang dalam diam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....