Kisah Wak Liyah, Penjaga Abadi Hagu Teungoh

  • 01 Apr 2025 12:33 WIB
  •  Lhokseumawe

KBRN, Lhokseumawe: Di antara nisan-nisan yang berbaris rapi di pekuburan Hagu Teungoh, Lhokseumawe, hiduplah sebuah dedikasi yang tak lekang dimakan waktu. Wak Liyah, dengan keriput di wajahnya yang menyimpan segudang cerita dan langkahnya yang meski tak lagi gesit namun penuh semangat, telah mengabdikan 18 tahun hidupnya sebagai pembersih kuburan.

Di usianya yang senja, 72 tahun, ia menjelma menjadi penjaga ketenangan abadi bagi para penghuni terakhir kampung halamannya. Bukan harta berlimpah yang ia kejar, melainkan sebuah panggilan hati untuk menjaga tempat peristirahatan terakhir agar tetap bersih dan terawat.

Setiap tiga bulan sekali, Geuchik desa menyambanginya, mengulurkan rezeki sebesar 800 ribu rupiah sebagai upah atas kerja kerasnya. Jumlah yang mungkin tak seberapa bagi sebagian orang, namun bagi Wak Liyah, itu adalah penopang hidup yang disyukurinya dengan hati lapang. Dengan telaten, ia menyapu dedaunan kering yang gugur, memotong dan mencabuti rumput liar yang mulai meninggi, dan membersihkan lumut yang menghiasi batu-batu nisan.

Tangannya yang kasar, yang telah melewati berbagai suka dan duka kehidupan, kini dengan lembut menyentuh setiap sudut pekuburan, seolah berbisik doa bagi mereka yang telah tiada.

Bagi masyarakat Hagu Teungoh, Wak Liyah bukan sekadar pembersih kuburan biasa. Ia adalah sosok lelaki yang penyayang, seorang penjaga tradisi, dan pengingat akan siklus kehidupan. Kehadirannya memberikan rasa nyaman dan tentram bagi keluarga yang berziarah.

Mereka tahu, di sana, ada seorang lelaki tua yang dengan tulus ikhlas menjaga peristirahatan terakhir orang-orang terkasih mereka. Kisah Wak Liyah adalah cerminan kesederhanaan, ketekunan, dan pengabdian tanpa pamrih yang patut diabadikan.

Lebih dari sekadar pekerjaan, membersihkan kuburan bagi Wak Liyah adalah sebuah bentuk ibadah dan penghormatan. Ia menemukan kedamaian di antara nisan-nisan, seolah merasakan kehadiran para pendahulu yang menitipkan pesan tentang kehidupan dan kematian.

Di usianya yang senja, Wak Liyah terus mengayunkan sapunya, merawat setiap jengkal tanah pekuburan Hagu Teungoh, dan menyenandungkan rindu di antara nisan-nisan, sebuah melodi abadi dari seorang penjaga hati.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....