UMKM Bicara - Manisnya Timphan Warisan Kuliner Indah Aceh
- 22 Sep 2026 08:27 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Timphan bukan sekadar camilan manis yang menggugah selera, melainkan jantung dari identitas budaya masyarakat Aceh. Kue berbahan dasar tepung ketan, pisang, dan santan ini, berisi serikaya atau kelapa manis, dibungkus daun pisang lalu dikukus, telah hadir di setiap momen berharga mulai dari pernikahan, hari raya, hingga syukuran keluarga. Dalam siaran UMKM Bicara di RRI Lhokseumawe edisi Senin 21 September 2026, Ibu Muliza yang di sapa Moli dari Rumoh Produksi Timphan Mamak berbagi bagaimana aroma timphan yang matang mengingatkan kita pada kehangatan rumah dan kasih sayang orang tua.
Resep timphan diwariskan turun-temurun, terutama dari ibu kepada anak perempuan, menjadikannya bukti cinta yang tak terputus antar generasi. Moli menuturkan bahwa membuat timphan memerlukan kesabaran dan ketelatenan adonan harus kenyal sempurna, isian manisnya seimbang, dan pembungkusan daun pisang rapi agar aroma khasnya terjaga. Setiap lipatan daun dan setiap sentuhan tangan menyimpan cerita leluhur yang ingin tetap hidup di tengah zaman yang terus berubah.

Menjalankan usaha Timphan Mamak bukan tanpa tantangan; masa simpan timphan yang pendek menjadi kendala utama untuk menjangkau daerah yang lebih luas. Namun dengan ketekunan dan inovasi kemasan yang tepat, Moli kini mampu menghadirkan timphan yang tetap segar dan layak dibawa sebagai buah tangan ke berbagai kota. Inilah bukti bahwa tradisi tidak harus kaku ia bisa beradaptasi, tumbuh, dan memberi manfaat ekonomi bagi keluarga serta lingkungan sekitar.
Generasi muda adalah kunci agar timphan tidak hilang ditelan waktu. Moli terus berupaya memperkenalkan kelezatan ini dengan tetap menjaga rasa aslinya, sekaligus mengemasnya lebih menarik agar disukai semua kalangan. Timphan adalah simbol kebersamaan manisnya dirasakan bersama, lezatnya dibagi, dan keindahannya dijaga bersama. Ia mengajarkan bahwa melestarikan budaya bukan beban, melainkan kehormatan yang patut dijunjung tinggi oleh setiap anak bangsa.
Di penghujung siaran, tersampaikan pesan yang menyentuh: melestarikan timphan sama dengan menjaga jati diri Aceh itu sendiri. Moli berharap semakin banyak tangan muda yang mau belajar membuat timphan, bukan hanya demi bisnis, melainkan demi menjaga warisan yang telah diwariskan ratusan tahun ini. Manisnya timphan akan terus melekat di hati, mengingatkan kita bahwa akar yang kuat akan selalu menopang langkah kita ke masa depan yang cerah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....