Perjuangan Mahasiswa KKN Sukses Bangkitkan UMKM di Desa Bayu
- 31 Agt 2026 15:10 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Di sudut Desa Bayu yang tenang, kec. kuta Makmur, Kab, Aceh Utara, kehidupan warga berjalan sederhana namun penuh makna. Di sinilah para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berjuang setiap hari dengan keterbatasan—kedai kopi yang hanya dikunjungi beberapa orang setiap pagi, gerobak gorengan yang setia menanti pembeli di tepi jalan, warung mie caluk yang mengandalkan pelanggan setia dari tetangga sekitar, hingga warung serba ada yang menjual gas dan kebutuhan pokok untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga. Meskipun tidak pernah ramai, usaha-usaha kecil ini adalah tulang punggung ekonomi desa yang menopang kehidupan puluhan keluarga.
Namun, selama bertahun-tahun, potensi besar ini terpendam begitu saja. Minimnya pengetahuan tentang manajemen usaha, keterbatasan akses pemasaran, dan kelangkaan modal menjadi kendala utama yang membuat UMKM di Desa Bayu sulit berkembang. Kini, cerita itu mulai berubah. Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPM) Kelompok 26 Universitas Malikussaleh hadir sebagai angin segar yang membawa harapan baru bagi kebangkitan ekonomi desa.
Sejak menginjakkan kaki di desa ini pada 1 Agustus 2026, mahasiswa KKN Kelompok 26 tidak sekadar menjadi tamu yang datang dan pergi. Mereka datang sebagai sahabat, pendengar, dan mitra bagi para pelaku UMKM yang selama ini berjuang sendiri dengan keterbatasan. Mereka mendengar keluhan, melihat potensi yang terpendam, dan merangkul satu per satu pelaku usaha untuk bersama-sama melangkah menuju perubahan yang lebih baik.
Ketua Humas Kelompok 26 KKN PPM, Muhammad Fauzil Adim Harahap, menuturkan pengalaman awalnya saat pertama kali bertemu dengan para pelaku UMKM Desa Bayu. Ada aura semangat yang kuat, tetapi juga kepasrahan akan keterbatasan yang mereka hadapi.
"Saat pertama kali turun ke lapangan, kami terenyuh melihat perjuangan para pelaku UMKM ini. Ada ibu-ibu pemilik kedai kopi, gorengan, dan mie caluk Aceh yang setiap pagi selalu ramai pengunjung, tetapi pemiliknya tidak pernah mencatat keuangan usahanya.
Ada pula pemilik kedai mie dan jajanan yang cita rasa produknya juara, tetapi hanya mengandalkan pembeli dari tetangga sekitar. Dan ada warung serba ada yang menjual gas dan kebutuhan pokok, tetapi tidak memiliki strategi pemasaran yang baik. Saat itulah kami bertekad, kami harus membantu mereka. Kami tidak ingin potensi besar ini terus terpendam," ujar Muhammad Fauzil Adim Harahap dengan mata berbinar penuh haru.
Perjalanan pendampingan dimulai dari hal yang paling mendasar: mengenal lebih dekat setiap pelaku UMKM. Mahasiswa turun langsung ke lokasi usaha, berbincang hangat dengan para pemilik warung, melihat proses produksi, mencatat kendala yang dihadapi, hingga memahami cerita di balik setiap usaha yang mereka geluti. Dari situlah mereka menemukan bahwa meskipun usaha-usaha ini tidak pernah ramai pengunjung, tetapi memiliki loyalitas pelanggan yang tinggi dan cita rasa produk yang otentik. Ada kedai kopi, gorengan, dan mie caluk Aceh yang setiap pagi hanya dikunjungi beberapa orang, tetapi pemiliknya tidak pernah mencatat keuangan usahanya.
Ada juga kedai mie dan jajanan yang pembelinya hanya dari lingkungan sekitar, tetapi pemiliknya kesulitan mengembangkan usaha karena keterbatasan modal dan pengetahuan manajemen usaha. Dan ada warung serba ada yang menjual gas dan kebutuhan pokok, tetapi belum memiliki sistem pencatatan stok barang yang rapi. Dari sinilah mahasiswa KKN Kelompok 26 menyadari bahwa untuk mensejahterakan dan memajukan UMKM, mereka harus memberikan pendampingan yang holistik dan berkelanjutan.
Dari hasil observasi tersebut, mahasiswa KKN Kelompok 26 merancang program pendampingan yang holistik dan berkelanjutan. Program-program yang mereka gagas tidak hanya berorientasi pada hasil instan, tetapi juga pada pemberdayaan jangka panjang yang membuat pelaku UMKM mampu berdiri di atas kaki mereka sendiri.
Program pertama yang mereka jalankan adalah pelatihan pembukuan sederhana. Selama ini, sebagian besar pelaku UMKM tidak mencatat pemasukan dan pengeluaran secara teratur. Akibatnya, mereka seringkali tidak mengetahui untung-rugi usaha mereka. Mahasiswa mengajarkan cara mencatat keuangan dengan metode sederhana, menggunakan buku kas dan aplikasi pencatatan digital yang mudah diakses.
"Kami ajari mereka membedakan antara uang pribadi dan uang usaha. Kami juga bantu mereka menghitung harga pokok produksi agar mereka tahu berapa keuntungan yang sebenarnya. Ini langkah kecil yang dampaknya luar biasa besar. Untuk kedai kopi, gorengan, dan mie caluk, kami bantu mencatat stok barang dan omzet harian. Untuk penjual mie dan jajanan, kami bantu menghitung modal dan keuntungan per hari," jelas Muhammad Fauzil Adim Harahap.
Program kedua adalah pendampingan manajemen stok barang dan pengelolaan keuangan sederhana. Selama ini, para pelaku UMKM di Desa Bayu—baik kedai kopi, gorengan, mie caluk, kedai mie dan jajanan, maupun warung serba ada—sering mengalami kendala dalam mengatur stok barang dagangan dan mencatat arus keuangan usaha mereka.
Banyak di antara mereka yang tidak tahu berapa modal yang dikeluarkan, berapa keuntungan yang diperoleh, bahkan stok barang sering habis tanpa disadari atau justru menumpuk dan kadaluwarsa.
Mahasiswa KKN Kelompok 26 hadir memberikan pendampingan dengan mengajarkan cara mencatat stok barang secara sederhana menggunakan buku inventaris dan aplikasi pencatatan stok di ponsel. Mereka juga mengajarkan metode pencatatan keuangan yang mudah dipahami, sehingga para pelaku UMKM bisa mengetahui dengan pasti kondisi usaha mereka setiap harinya.
"Kami ajari mereka cara mencatat barang masuk dan keluar, mengatur rotasi stok agar tidak kadaluwarsa, serta menghitung laba rugi usaha setiap minggunya. Dengan pencatatan yang rapi, mereka jadi tahu kapan harus membeli stok baru, produk mana yang paling laris, dan berapa keuntungan yang sebenarnya mereka dapatkan. Ini langkah kecil yang memberikan perubahan besar bagi kelangsungan usaha mereka," jelas Muhammad Fauzil Adim Harahap.
Buk Bulan, pemilik kedai kopi, gorengan, dan mie caluk Aceh yang setiap pagi selalu ramai pengunjung, mengakui bahwa pemasangan spanduk dan papan nama di depan kedainya telah membawa perubahan besar bagi usahanya. Kini kedainya tidak hanya dikenal di kalangan warga sekitar, tetapi juga mulai dilirik oleh pengunjung dari luar desa yang tertarik dengan informasi yang terpampang jelas di spanduk tersebut.
"Dulu saya hanya mengandalkan pelanggan setia yang datang karena kebiasaan. Tapi setelah adik-adik KKN membantu memasang spanduk dan papan nama di depan kedai saya, banyak orang baru yang mampir. Mereka tertarik karena spanduknya terlihat profesional dan informatif. Sekarang pengunjung saya bertambah, omzet saya juga meningkat. Saya juga jadi bisa mencatat keuangan dengan lebih rapi. Saya tidak bisa mengungkapkan betapa bersyukurnya saya," ujar Buk Bulan dengan suara bergetar penuh haru.
Tak hanya Buk Bulan, Buk Aini, pemilik kedai mie dan aneka jajanan yang selama ini menjadi langganan warga setempat, juga merasakan dampak positif dari pendampingan mahasiswa KKN. Ia mengaku bahwa pelatihan manajemen usaha dan pemasaran digital telah membuka mata dan hatinya untuk berinovasi.
"Dulu saya hanya mengandalkan pembeli yang datang ke kedai saya. Saya tidak pernah mencatat keuangan dan stok barang. Setelah diajari adik-adik KKN, saya jadi bisa mencatat pemasukan dan pengeluaran dengan rapi. Saya juga diajari cara mempromosikan kedai saya melalui media sosial dan WhatsApp. Sekarang, banyak pelanggan baru yang datang, bahkan ada yang memesan dari luar desa. Pendapatan saya meningkat dan saya jadi lebih semangat mengelola kedai," ujar Buk Aini dengan senyum sumringah.
Sementara itu, Bapak Hasan, pemilik warung serba ada yang menjual gas dan kebutuhan pokok, mengaku sangat terbantu dengan pelatihan manajemen stok dan pencatatan keuangan yang diberikan mahasiswa KKN. Selama ini ia sering bingung mengatur stok barang dan keuangan usahanya.
"Saya ini hanya pedagang kecil, jualan gas, telur, gula, sama beberapa kebutuhan pokok lainnya. Dulu saya tidak pernah catat-catat, yang penting laku. Tapi setelah diajari adik-adik KKN, saya jadi tahu mana barang yang cepat laku dan mana yang harus saya kurangi stoknya. Saya juga diajari catat keuangan yang rapi. Sekarang saya lebih tenang berjualan karena semua sudah lebih teratur," ungkap Bapak Hasan.
Program ketiga adalah pelatihan pengemasan (packaging) produk. Mahasiswa mengajarkan pentingnya kemasan yang menarik, higienis, dan informatif. Mereka mendesain label produk dan papan nama usaha, memberikan tips fotografi produk, dan mengajak pelaku UMKM menggunakan kemasan yang ramah lingkungan. Hasilnya, produk jajanan dan gorengan kini tampil dengan wajah baru yang lebih profesional dan siap bersaing di pasar modern.
Program keempat yang menjadi andalan adalah pelatihan pemasaran digital. Mahasiswa mengajarkan cara membuat konten media sosial yang menarik, memanfaatkan WhatsApp Business untuk melayani pelanggan, serta menggunakan platform pemesanan online untuk menjangkau pelanggan yang lebih luas. Mereka juga membantu membuat katalog produk digital yang bisa diakses kapan saja oleh calon pembeli.
Tak cukup sampai di situ, mahasiswa KKN Kelompok 26 juga menginisiasi pembentukan Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang menggabungkan para pelaku UMKM dalam satu wadah. Melalui KUB, mereka dapat saling bertukar pengalaman, berkolaborasi dalam produksi dan pemasaran, serta melakukan pembelian bahan baku secara kolektif untuk menekan biaya produksi. KUB juga menjadi wadah bagi mereka untuk saling menguatkan dan berbagi semangat saat menghadapi tantangan.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kelompok 26, Dr. Naz'aina, S.E., M.Si., Ak., mengaku sangat terkesan dengan dedikasi dan kreativitas mahasiswanya. Menurutnya, pendekatan yang dilakukan mahasiswa tidak hanya sekadar memberikan bantuan teknis, tetapi juga membangun rasa percaya diri dan kemandirian pelaku UMKM.
"Yang membuat saya bangga adalah cara mahasiswa menyentuh hati para pelaku UMKM. Mereka tidak datang dengan sikap menggurui, tetapi dengan penuh empati dan kesetaraan. Mereka belajar bersama masyarakat, dan masyarakat pun belajar dari mereka. Mulai dari kedai kopi, gorengan, mie caluk, kedai mie dan jajanan, hingga warung serba ada—semua diperlakukan sama dan didampingi dengan penuh dedikasi. Inilah esensi dari pengabdian yang sejati. Saya yakin, apa yang mereka tanamkan di Desa Bayu akan terus tumbuh dan berbuah manis, bahkan setelah masa KKN mereka berakhir," ujar Dr. Naz'aina dengan penuh kebanggaan.
Keuchik Desa Bayu, Musriadi, juga tak henti-hentinya menyampaikan rasa terima kasihnya. Menurutnya, program pendampingan UMKM ini adalah jawaban atas doa dan harapan masyarakat Desa Bayu selama ini.
"Kami sudah bertahun-tahun bermimpi untuk mengembangkan UMKM di desa ini. Tapi baru sekarang mimpi itu terwujud, berkat kehadiran adik-adik mahasiswa KKN. Mereka datang bukan hanya dengan ilmu, tetapi juga dengan hati. Mereka sabar mendampingi kedai kopi, gorengan, mie caluk, kedai mie dan jajanan, hingga warung serba ada di desa kami. Mereka memberikan semangat dan membantu kami membuka pintu peluang yang selama ini tertutup. Saya tidak bisa melukiskan betapa bahagianya saya dan seluruh warga Desa Bayu," ujar Musriadi dengan suara lirih penuh haru.
Salah satu momen paling berkesan adalah ketika mahasiswa KKN Kelompok 26 bersama para pelaku UMKM melakukan pemasangan plang usaha dan spanduk di setiap kedai dan warung yang menjadi binaan mereka. Dengan semangat gotong royong, mereka bahu-membahu memasang papan nama yang didesain secara profesional, mencantumkan nama usaha, jenis produk, dan nomor kontak yang bisa dihubungi. Kini, setiap sudut Desa Bayu dihiasi dengan plang-plang usaha yang rapi dan menarik, membuat desa ini semakin hidup dan terlihat lebih maju.
Warga setempat pun turut berbondong-bondong melihat dan mengagumi hasil kerja keras mahasiswa dan para pelaku UMKM. Banyak di antara mereka yang merasa bangga melihat usaha-usaha lokal kini memiliki identitas yang jelas dan terlihat profesional. Plang-plang usaha yang terpasang dengan rapi di sepanjang jalan desa menjadi pemandangan baru yang membawa angin segar bagi semangat berwirausaha di Desa Bayu.
Bapak Ridwan, salah satu warga yang turut menyaksikan pemasangan plang usaha, mengaku kagum dengan semangat dan inovasi yang ditunjukkan para pelaku UMKM Desa Bayu.
"Saya baru tahu kalau Desa Bayu punya banyak usaha lokal yang luar biasa. Sekarang dengan adanya plang usaha yang terpasang rapi, saya jadi tahu di mana saja tempatnya. Kopi di sini nikmat, gorengannya renyah, mie caluk dan mie Aceh-nya autentik, jajanannya enak-enak, bahkan warung serba adanyapun lengkap dan teratur. Ini membuktikan bahwa usaha lokal kita tidak kalah dengan usaha dari luar. Terima kasih kepada adik-adik mahasiswa yang sudah membantu menghidupkan desa kami," ujar Ridwan dengan antusias.
Muhammad Fauzil Adim Harahap menuturkan bahwa di balik setiap keberhasilan, ada cerita perjuangan yang tidak terlihat. Ada malam-malam larut yang dilewati untuk mendesain spanduk dan papan nama, ada peluh yang bercucuran saat membantu mengurus administrasi, ada doa-doa yang dipanjatkan agar program yang dijalankan membawa manfaat bagi semua.
"Kami datang dengan niat tulus, dan kami pulang dengan kenangan yang tak terlupakan. Kami belajar banyak dari masyarakat Desa Bayu—tentang kesederhanaan, kegigihan, dan arti kebersamaan. Kami berharap apa yang sudah kami mulai ini terus berlanjut dan berkembang. Karena dari produk lokal, lahirlah cerita besar—cerita tentang kebangkitan ekonomi desa, tentang para pelaku UMKM yang berani bermimpi dan berinovasi, dan tentang mahasiswa yang hadir sebagai agen perubahan," pungkasnya dengan suara penuh haru.
Kisah sukses pendampingan UMKM di Desa Bayu ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara akademisi dan masyarakat mampu melahirkan perubahan yang bermakna. Mahasiswa KKN tidak hanya datang untuk memenuhi tugas akademik, tetapi menjadi bagian dari perjalanan panjang masyarakat menuju kehidupan yang lebih sejahtera dan bermartabat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....