Akademisi Soroti Lesunya UMKM akibat Ketidakstabilan Harga Bahan Pokok

  • 22 Agt 2026 20:37 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Akademisi Universitas Malikussaleh (Unimal) yang juga pakar ekonomi, Yulius Dharma, menyoroti lesunya geliat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Lhokseumawe dan sekitarnya. Kondisi tersebut dinilai tidak terlepas dari harga bahan pokok yang tidak stabil dan cenderung terus mengalami kenaikan.

Menurut Yulius, kenaikan harga bahan baku membuat pelaku UMKM harus memutar otak agar tetap mampu menjalankan usahanya. Di sisi lain, daya beli masyarakat yang melemah turut berdampak terhadap penurunan omzet dan keberlangsungan usaha.

Hal itu disampaikan Yulius saat menjadi narasumber dalam Program Dialog Bincang Pagi RRI Pro 1 Lhokseumawe, Jumat 21 Agustus 2026. dalam dialog bertajuk “UMKM Mendongkrak Perekonomian Daerah”.

Yulius mengatakan, dirinya mengamati banyak usaha kuliner yang kini mengalami penurunan jumlah pembeli. Bahkan, sebagian pelaku usaha terpaksa menutup bisnis karena tidak mampu lagi menanggung biaya operasional.

“Padahal, jika UMKM bergeliat, ini akan menggerakkan perekonomian daerah karena dari situ akan muncul lapangan kerja, menambah PAD, dan meningkatkan konsumsi masyarakat. Tapi yang terjadi sebaliknya, UMKM terseok-seok,” ujar Yulius.

Ia menilai kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Menurutnya, pemerintah dapat mengambil sejumlah langkah untuk membantu pelaku UMKM, antara lain melalui subsidi harga bahan baku, pelaksanaan pasar murah, serta pemberian dukungan permodalan bagi pelaku usaha yang membutuhkan.

Selain dukungan pemerintah, Yulius juga menyoroti pentingnya peran masyarakat dalam menjaga keberlangsungan UMKM lokal. Menurutnya, rendahnya minat masyarakat membeli produk UMKM turut memperberat kondisi pelaku usaha.

“Jadi, dari masyarakat sendiri juga harus mendukung UMKM lokal dengan cara membeli produk UMKM dan tidak menawarnya lagi,” katanya.

Dalam dialog tersebut, turut hadir Maimun, pemilik usaha roti Ibrar Bakery. Ia mengungkapkan kondisi usahanya yang mengalami tekanan akibat situasi ekonomi yang tidak menentu.

Maimun mengatakan, jumlah pekerja di usahanya yang sebelumnya mencapai sekitar 40 orang kini harus dikurangi menjadi 20 orang. Pengurangan tersebut dilakukan karena beban operasional dan biaya produksi semakin besar, sementara keuntungan yang diperoleh tidak lagi sebanding.

“Kami tetap mempertahankan harga agar produk tetap dilirik pembeli. Kalau kami turunkan harga, pembeli langsung protes dan enggan membeli lagi. Jadi, kami menyiasatinya dengan mengecilkan ukuran, tetapi harganya tetap,” ungkap Maimun.

Ia berharap pemerintah lebih memperhatikan keberlangsungan UMKM di Kota Lhokseumawe. Menurutnya, keberadaan UMKM memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian daerah sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Sementara itu, Yulius mengingatkan para pelaku UMKM agar tidak mudah menyerah menghadapi tekanan ekonomi. Ia mendorong pelaku usaha untuk terus mempertahankan kualitas produk sekaligus melakukan inovasi sesuai kebutuhan dan daya beli masyarakat.

“Bagaimanapun keadaannya, pelaku UMKM harus bertahan, tetap mengedepankan kualitas, dan selalu berinovasi,” pesan Yulius.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....