Lingka, Ubah Limbah Tekstil Jadi Produk Baru
- 18 Agt 2025 23:51 WIB
- Lhokseumawe
KBRN, Lhokseumawe: Tidak banyak yang melirik limbah tekstil sebagai peluang usaha. Namun, Muhammad Reza, pemuda asal Lhokseumawe yang kini mengelola UMKM bernama Lingka, berhasil membuktikan bahwa sisa-sisa kain ternyata bisa diolah menjadi produk bermanfaat dan bernilai jual.
Lingka hadir sejak tahun 2023 lalu sebagai brand lokal asal Lhokseumawe yang fokus mengolah limbah tekstil menjadi produk baru. Muhammad Reza, pemilik usaha Lingka, tidak hanya bertujuan menciptakan sumber ekonomi kreatif bagi anak muda, tetapi juga ingin tumbuh sebagai brand yang ramah lingkungan.
Dalam program Mozaik Indonesia di Pro1 RRI Lhokseumawe, Senin (18/8/2025), Reza menceritakan bahwa Lingka berawal dari kepeduliannya terhadap masalah sampah tekstil yang kerap menumpuk di sekitar industri konveksi. “Awalnya saya melihat banyak potongan kain yang dibuang percuma. Dari situ saya berpikir, kenapa tidak dimanfaatkan menjadi sesuatu yang berguna, seperti membuat produk tambal sulam?” ujarnya.
Nama Lingka sendiri berasal dari bahasa Aceh yang berarti lingkaran. Filosofinya, usaha ini diharapkan bisa menjadi wadah yang terus berputar tanpa putus, memberi dampak positif dan berkelanjutan, terutama bagi generasi muda yang ingin berkarya di bidang kreatif.
Produk yang dihasilkan Lingka pun cukup beragam,, mulai dari tas, topi, hingga baju. Menariknya, ada beberapa produk yang kini menjadi favorit konsumen, terutama tas berbahan kain perca dengan desain unik. tas handmade menjadi yang paling diminati pasar, bahkan menjadi best seller dengan pesanan yang banyak datang dari luar Aceh, khususnya Pulau Jawa dan Bali. Target pasar Lingka adalah pria dan wanita usia 20 hingga 35 tahun, khususnya mereka yang menyukai produk handmade edisi terbatas, pecinta seni, serta kalangan yang sudah memahami isu fast fashion dan pentingnya konsumsi berkelanjutan.
Meski begitu, Reza tidak menampik adanya tantangan dalam menjalankan usaha ini. Salah satunya adalah menjaga kualitas produk agar bisa bersaing dengan barang pabrikan. “Kuncinya ada pada kreativitas dan konsistensi. Inovasi, dan manajemen yang baik, termasuk pencatatan keuangan, kalau kita bisa jaga kualitas, pasar akan terbuka,” jelasnya.
Menurut Reza, strategi yang dijalankan Lingka adalah menghadirkan keunikan produk, memanfaatkan isu lingkungan, serta melakukan riset pasar untuk menentukan produk yang paling diminati. “Kami harus bisa terus berinovasi dan memposisikan diri setara dengan brand besar agar bisa diterima pasar.“ tambahnya.
Reza optimis, usaha ramah lingkungan seperti Lingka memiliki prospek cerah. Selain berkontribusi pada pengurangan sampah tekstil, usaha ini juga memberi peluang baru bagi generasi muda untuk menciptakan ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Reza berharap, semakin banyak anak muda dan pelaku UMKM yang tergerak untuk memanfaatkan limbah menjadi peluang usaha. “Sampah bukan akhir dari segalanya. Justru bisa menjadi awal ide kreatif dan usaha baru. Harapan saya, Lingka bisa terus berkembang, sekaligus memberi kontribusi nyata dalam mengurangi sampah tekstil,” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....