Rasa, Warisan, dan Perjuangan Timphan Mamak

  • 13 Mei 2025 20:04 WIB
  •  Lhokseumawe

KBRN, Lhokseumawe: Tak ada yang menyangka bahwa dari dapur rumah sederhana, seorang perempuan bernama Muliza akrab disapa Kak Moli, mampu membangkitkan kembali pamor kue timphan sebagai kuliner khas Aceh yang kini dikenal hingga ke luar daerah.

Dalam siaran Mozaik Indonesia edisi Senin (12/5/2025) yang disiarkan di Pro 1 RRI Lhokseumawe, Muliza membeberkan kisah jatuh bangun membangun usahanya, yang akhirnya bangkit dengan “Timphan Mamak”, yang telah ia rintis sejak 2017.

Awalnya, usaha kuliner tidak masuk dalam rencana jangka panjangnya. Bahkan sebelumnya, ia sempat mencoba berjualan donat, namun tidak berhasil. “Waktu itu bingung banget, usaha gagal, nggak tahu mau mulai dari mana,” ujar Kak Moli.

Namun, dari kebingungan itulah muncul secercah harapan. Berkat dorongan dan inisiatif dari keluarga, khususnya karena keluarganya memang telah lama menerima pesanan kue timphan secara turun-temurun, Muliza akhirnya memberanikan diri memulai usaha baru: kue timphan.

“Timphan ini memang bukan hal baru bagi kami. Dari kecil saya sudah terbiasa lihat orang tua terima pesanan, jadi akhirnya terpikir untuk melanjutkan saja,” ungkapnya.

Bermodalkan resep keluarga dan semangat untuk bangkit, Muliza mulai menerima pesanan dari tetangga dan membagikannya lewat media sosial. Dari mulut ke mulut, pesanan pun mulai mengalir.

Meski terbilang lancar, perjalanan Timphan Mamak juga menemui kendala, terutama di bagian legalitas usaha. “Kendala paling terasa ya di bagian perizinan. Karena ini makanan yang daya tahannya cuma tiga hari, jadi sempat agak bingung ngurus legalnya,” ujarnya.

Namun di luar itu, Timphan Mamak tidak menghadapi kendala berat, termasuk dalam hal pemasaran. Bahan-bahan lokal yang mudah didapat, serta proses produksi yang masih melibatkan keluarga dan beberapa karyawan, membuat usaha ini tetap berjalan stabil.

Keunikan Timphan Mamak terletak pada konsistensi rasa dan keberagaman varian. Tak hanya isi kelapa, dan srikaya saja, kini tersedia varian rasa modern seperti cokelat, strawberry dan blueberry hingga keju, untuk menarik minat konsumen muda yang mulai beralih dari kuliner tradisional.

“Saya lihat anak-anak muda sekarang udah jarang makan timphan. Jadi kita coba tarik mereka dengan varian rasa yang kekinian, tapi tetap jaga rasa asli,” kata Kak Moli.

Usaha Timphan Mamak kini tidak hanya dikenal di Lhokseumawe, tetapi juga telah menerima pesanan dari luar daerah. Muliza berharap, Timphan Mamak bisa menjadi salah satu ikon oleh-oleh khas Aceh yang dikenal luas dan dicintai lintas generasi.

“Saya ingin timphan tetap jadi bagian dari budaya kita. Jangan sampai makanan khas ini dilupakan. Semoga bisa jadi oleh-oleh yang dibanggakan saat orang berkunjung ke Aceh,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....