Bagaimana Promo Membuat Kita Membeli Barang yang Tidak Direncanakan?

  • 29 Sep 2026 21:04 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Pernah masuk ke toko atau membuka marketplace hanya untuk membeli satu barang, tetapi akhirnya pulang atau checkout dengan beberapa produk tambahan? Salah satu pemicunya adalah promosi. Tulisan seperti "diskon 50 persen", "beli 2 lebih murah", "gratis ongkir", atau "harga khusus hari ini" dapat membuat sebuah barang terlihat lebih menarik dibandingkan kondisi normal. Menariknya, kita tidak selalu membeli karena benar-benar membutuhkan produk tersebut. Cara promo dirancang dapat memengaruhi bagaimana otak menilai harga, manfaat, dan kesempatan untuk mendapatkan sebuah barang.

Salah satu mekanismenya adalah persepsi terhadap harga. Ketika sebuah produk awalnya ditampilkan seharga Rp200.000 kemudian diberi label diskon menjadi Rp120.000, perhatian kita sering tertuju pada angka penghematannya. Kita merasa mendapatkan keuntungan Rp80.000, meskipun pertanyaan sebenarnya adalah apakah kita memang membutuhkan barang tersebut seharga Rp120.000. Harga awal berfungsi sebagai titik pembanding atau reference price, sehingga harga setelah diskon dapat terlihat lebih murah dan lebih menarik.

Promo dengan batas waktu juga memanfaatkan rasa urgensi. Kalimat seperti "berakhir 2 jam lagi" atau "stok terbatas" memberikan kesan bahwa kesempatan membeli tidak akan bertahan lama. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang mengambil keputusan lebih cepat dan mengurangi waktu untuk mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar diperlukan. Dalam belanja online, penghitung waktu mundur, notifikasi promo, dan pemberitahuan stok juga dapat memperkuat perasaan bahwa keputusan harus segera dibuat.

Bentuk promosi tertentu bahkan membuat kita membeli lebih banyak daripada rencana awal. Contohnya adalah "beli dua gratis satu" atau "gratis ongkir dengan minimal belanja Rp100.000". Jika awalnya hanya membutuhkan barang senilai Rp60.000, seseorang mungkin menambahkan produk lain agar mencapai batas minimal tersebut. Secara matematis, jumlah pengeluaran memang bertambah, tetapi konsumen merasa sedang menghemat karena mendapatkan keuntungan tambahan. Inilah salah satu alasan mengapa kata gratis dan hemat memiliki pengaruh besar dalam strategi pemasaran.

Berdasarkan berbagai penelitian mengenai perilaku konsumen, persepsi harga, promosi, dan pengambilan keputusan yang dilansir dari berbagai sumber, promo dapat memengaruhi keputusan pembelian melalui kombinasi antara persepsi keuntungan, harga acuan, urgensi, dan dorongan untuk mendapatkan kesempatan yang dianggap menguntungkan. Namun, promo tidak selalu berarti konsumen pasti membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan. Pengaruhnya bergantung pada kondisi, jenis produk, kebutuhan, serta karakter masing-masing konsumen. Karena itu, sebelum tergoda tulisan "diskon besar", pertanyaan paling sederhana justru sering menjadi yang paling berguna: kalau barang ini tidak sedang diskon, apakah saya tetap ingin membelinya?

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....