Remaja di Tengah Arus Market Digital
- 06 Feb 2026 21:53 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe – Perkembangan market digital yang semakin pesat memberikan kemudahan besar bagi masyarakat, termasuk kalangan remaja. Berbagai kebutuhan kini dapat dipenuhi hanya melalui gawai, mulai dari pakaian, makanan, hingga produk digital. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pula tantangan yang berpotensi menjadi petaka jika tidak disikapi secara bijak.
Hal tersebut disampaikan Lia Safrina, SE., M.Ag., dosen Ekonomi Islam UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, pada Jumat, 6 Februari 2026, dalam Dialog Ekonomi Digital di Pro1 RRI Lhokseumawe, dengan topik “Market Digital: Antara Kemudahan dan Petaka bagi Konsumen Remaja”. Menurutnya, market digital telah mengubah pola konsumsi remaja menjadi lebih praktis, namun juga cenderung mendorong perilaku konsumtif.
“Remaja saat ini sangat dekat dengan dunia digital. Mereka mudah terpapar tren, promo, dan rekomendasi dari influencer, sehingga sering membeli barang bukan karena kebutuhan, tetapi karena keinginan,” ujar Lia Safrina.
Ia menjelaskan, fenomena FOMO (Fear of Missing Out) atau rasa takut ketinggalan tren menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi keputusan belanja remaja. Kondisi ini membuat sebagian remaja melakukan pembelian secara impulsif tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap keuangan.
Selain itu, risiko penipuan online juga menjadi ancaman serius. Remaja yang belum memiliki literasi digital yang baik cenderung mudah tergiur dengan harga murah dan promo besar tanpa mengecek kredibilitas penjual.
“Literasi digital dan literasi keuangan sangat penting diajarkan sejak dini. Remaja perlu dibekali kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan, serta memahami cara belanja online yang aman,” tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dan sekolah dalam membimbing remaja agar menjadi konsumen digital yang cerdas. Pendampingan, edukasi, serta pembiasaan mengelola uang dengan baik dinilai mampu meminimalkan dampak negatif market digital.
Meski demikian, Lia Safrina menilai market digital tetap memiliki potensi besar jika dimanfaatkan secara positif. Remaja tidak hanya dapat menjadi konsumen, tetapi juga pelaku usaha digital melalui pengembangan keterampilan seperti pemasaran online, desain, dan pembuatan konten.
“Harapannya, market digital ke depan dapat menjadi ruang yang lebih aman, edukatif, dan ramah bagi remaja, sehingga kemudahan yang ditawarkan benar-benar memberikan manfaat,” tutupnya.