Investasi Berbasis Potensi Daerah Jadi Peluang Besar bagi Ekonomi Aceh

  • 13 Agt 2026 10:43 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe – Investasi dinilai menjadi salah satu penggerak penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Aceh. Namun, investasi perlu diarahkan pada sektor-sektor produktif yang memanfaatkan potensi dan produk unggulan daerah sehingga mampu menciptakan nilai tambah serta membuka lapangan kerja.

Hal tersebut disampaikan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Malikussaleh (Unimal), Dr. Ibrahim Qamarius, S.E., M.S.M., dalam dialog Investasi untuk Kesejahteraan Rakyat Aceh yang disiarkan di Pro1 RRI Lhokseumawe pada Rabu, 12 Agustus 2026.

Ibrahim Qamarius menjelaskan bahwa investasi bukan sekadar menyimpan uang, melainkan upaya menanamkan modal pada instrumen atau proyek produktif agar aset tersebut berkembang di masa depan. Menurutnya, Aceh memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, namun belum dimanfaatkan secara optimal untuk nilai tambah ekonomi.

“Kita punya kopi Gayo, nilam, cokelat, hingga potensi laut dalam di Sabang. Sayangnya, kita seringkali hanya mengirim bahan mentah ke luar daerah atau luar negeri. Padahal, jika kita berani melakukan hilirisasi atau mengolah produk-produk tersebut menjadi barang jadi, nilai tambahnya akan jauh lebih besar bagi kesejahteraan rakyat,” ujarnya.

Ia juga menilai masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu dibenahi untuk menciptakan iklim investasi yang lebih menarik di Aceh. Salah satunya adalah kepastian hukum dan keamanan yang menjadi pertimbangan penting bagi investor dalam menjalankan usaha.

Selain itu, kebijakan perpajakan yang transparan dan kompetitif serta birokrasi yang sederhana juga dinilai perlu diperkuat. Menurut Ibrahim Qamarius, proses perizinan dan pelayanan investasi harus berjalan sesuai prosedur tanpa adanya biaya tambahan di luar ketentuan.

Ia menekankan, pemerintah daerah perlu melihat investasi dari perspektif jangka panjang. Kebijakan yang dibuat seharusnya lebih berorientasi pada peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat, bukan hanya pada kepentingan jangka pendek.

Tidak hanya mengandalkan investasi berskala besar, Ibrahim juga mendorong penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui inovasi serta pemanfaatan sumber daya lokal.

Ia mencontohkan peran inkubator bisnis di lingkungan perguruan tinggi yang dapat membantu mengembangkan produk berbasis potensi daerah, termasuk pemanfaatan tanaman seperti mengkudu dan kemiri.

“Kita perlu sentuhan inovasi dan modifikasi produk agar produk lokal Aceh lebih kompetitif di pasar global. Saya mengajak masyarakat dan pemerintah untuk lebih giat mendukung startup dan UMKM lokal karena di tangan merekalah ekonomi daerah dapat tumbuh secara berkelanjutan,” katanya.

Ibrahim berharap sinergi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat dapat terus diperkuat. Dengan pengelolaan potensi daerah yang lebih baik, investasi di Aceh diharapkan tidak hanya meningkatkan aktivitas ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....