Pentingnya Optimalisasi Sektor Pertanian Demi Menopang Ekonomi Daerah
- 24 Jun 2026 12:42 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID,Lhokseumawe - RRI Lhokseumawe melalui Program Bincang Pagi menyoroti urgensi sektor pertanian dalam menopang stabilitas perekonomian daerah. Dialog tersebut membedah problematika potensi agraris di wilayah Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara.
Sekretaris Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kota Lhokseumawe, Sugito Tassan, Rabu 24 Juni 2026 mengungkapkan keprihatinannya terhadap kesejahteraan petani perkebunan maupun pesisir yang dinilai belum mengalami perbaikan signifikan.
Menurutnya, kondisi pelaku sektor pertanian saat ini bagaikan hidup segan mati tak mau karena mayoritas dari mereka hanya mengandalkan kemampuan tradisional serta manajerial secara swadaya. Minimnya pembinaan yang terstruktur dan bimbingan teknologi mutakhir dari para pemangku kepentingan daerah menjadi faktor utama penghambat kemajuan produktivitas hasil panen.
"Petani kita sulit menjadi pilar utama ketahanan pangan karena kehidupan ekonomi mereka sendiri tidak sejahtera seperti yang diharapkan," ujar Sugito Tassan saat diwawancarai RRI melalui zoom. Dirinya mencontohkan kelapa lokal yang sejauh ini hanya diolah secara tradisional menjadi kopra tanpa adanya sentuhan inovasi hilirisasi untuk mengomersialkan batok dari kelapa.
Di samping itu, musibah banjir besar serta serangan hama kronis di wilayah Muara Batu Aceh Utara contohnya, kian memperparah penderitaan petani akibat ketiadaan fasilitas asuransi pertanian.
Menanggapi realitas tersebut, akademisi dari Universitas Malikussaleh, Dr. Yulius Dharma, S.Ag., M.Si., mengkritisi adanya ironi struktural yang terjadi pada negara agraris seperti Indonesia.
Yulius menekankan bahwa meskipun doktrin mengenai negara agraris telah diajarkan sejak menduduki bangku sekolah dasar, angka kemiskinan ekstrem justru tetap mendominasi wilayah pedesaan yang dihuni oleh para petani.
Pola ketimpangan ini diperparah oleh dominasi kapitalis dan gurita oligarki penguasa modal yang mengendalikan rantai pasok perdagangan sehingga margin keuntungan terbesar tidak mengalir ke petani.
Sebagai langkah solutif, Yulius mendesak jajaran Dinas Kelautan, Perikanan, dan Pertanian (DKPP) setempat untuk meningkatkan intensitas peninjauan langsung ke lapangan. Pemerintah daerah diharapkan melakukan intervensi kebijakan pasar, mentransfer ilmu pengetahuan taktis, serta mengevaluasi program pendampingan secara berkala demi melindungi petani dari anjloknya harga akibat surplus pasokan.
Langkah strategis berupa pembelian hasil bumi oleh Badan Usaha Milik Daerah dengan harga standar yang berpihak pada petani dipandang mampu memutus rantai tengkulak nakal. Lebih lanjut, Yulius memaparkan pentingnya memodifikasi pola pikir generasi muda agar tidak memandang profesi petani sebagai pekerjaan yang inferior, kolot, dan identik dengan kemiskinan.
Ia mengapresiasi inovasi seorang pemuda bernama Candra, alumnus Universitas Malikussaleh, yang berhasil membudidayakan sepuluh ribu batang pohon mangga varietas unggul melalui optimalisasi lahan kering berbekal edukasi otodidak dari platform digital. Keberhasilan agrowisata 'Mangga Arun' tersebut menjadi bukti empiris bahwa kolaborasi teknologi digital dan pertanian modern mampu menciptakan klaster ekonomi baru yang menjanjikan.
Pada akhir dialog, kedua narasumber mengapresiasi konsistensi pelaksanaan program Pasar Tani yang diinisiasi oleh Pemerintah Kota Lhokseumawe sebagai ruang niaga strategis. Kendati demikian, mereka memberikan catatan kritis agar pasokan barang yang diperdagangkan murni berasal dari hasil panen petani lokal, bukan komoditas luar daerah yang diimpor melalui pedagang perantara.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....