Stok Hewan Kurban dan Meugang di Lhokseumawe Aman
- 26 Mei 2026 13:31 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe — Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian, dan Pangan (DKP3) Kota Lhokseumawe memastikan persediaan hewan kurban dan daging meugang menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah berada dalam kondisi aman.
Secara umum pasokan tercatat mencukupi kebutuhan masyarakat di empat kecamatan, meski terdapat dinamika fluktuasi jumlah persediaan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Berdasarkan data resmi, Pemerintah Kota Lhokseumawe mencatat pasokan hewan kurban di Lhokseumawe saat ini mencakup 1.393 ekor sapi jantan, 970 ekor kambing, dan 148 ekor domba, dan sekitar 30 ribu ekor Ayam. Sementara itu, untuk kebutuhan tradisi meugang, ketersediaan sapi jantan tercatat sebanyak 712 ekor, yang menunjukkan sedikit penurunan dibandingkan perolehan tahun lalu yang mencapai 805 ekor.
Kepala DKP3 Kota Lhokseumawe, Cut Elya Safitri, S.K.H., M.S.M., mengungkapkan bahwa pengawasan kesehatan ternak diperketat melalui kewajiban kepemilikan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). Petugas medik veteriner disiagakan penuh pada dua Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan), yakni di Blang Mangat dan Muara Satu, guna merespons laporan pemeriksaan dari para peternak.
Sosialisasi regulasi ini mengacu pada instruksi wali kota demi menjamin mutu serta kelayakan daging konsumsi masyarakat. "Petugas-petugas kami di empat kecamatan selalu mendatangi peternak. Kami menyarankan agar ternak yang akan dipotong di Kota Lhokseumawe harus terlebih dahulu diperiksa kesehatannya," ujar Cut Elya Safitri dalam keterangannya.
Di sisi lain, perwakilan peternak lokal, Saiful Ramadan, A.Md., mengeluhkan tantangan tingginya lonjakan harga bibit sapi lokal berkualitas yang berimbas pada harga jual hewan kurban di tingkat konsumen.
Kelangkaan bibit unggul memicu sebagian masyarakat beralih memilih komoditas sapi persilangan (cross) demi mendapatkan bobot daging yang lebih optimal. Saiful juga menyoroti maraknya praktik pemotongan sapi betina produktif oleh pedagang meugang akibat selisih harga jantan yang melambung tinggi.
"Permintaan hewan kurban pada tahun ini masih tinggi, tapi ketersediaannya mencukupi, namun harganya yang melambung tinggi akibat ketersediaan bibit unggul yang kurang," kata Saiful Ramadan.
Guna mengantisipasi kerugian berkelanjutan bagi peternak tradisional di kawasan pedalaman, ia mengusulkan pembentukan koperasi khusus peternakan sebagai wadah tata niaga resmi agar alur distribusi tidak sepenuhnya dikuasai oleh spekulan atau agen informal.
Merespons kendala perbibitan tersebut, DKP3 Kota Lhokseumawe berkomitmen untuk menggalakkan metode Inseminasi Buatan (IB) guna mencetak bibit sapi Aceh yang unggul secara mandiri. Pihak dinas juga telah melakukan studi banding ke Balai Pembenihan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Indrapuri seminggu yang lalu.
Langkah strategis ini diharapkan mampu merangkul kembali para peternak lokal agar produktivitas peternakan daerah semakin meningkat dan harga daging di pasar dapat kembali stabil.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....