​Durian Takengon Banjiri Lhokseumawe

  • 09 Jan 2026 12:15 WIB
  •  Lhokseumawe

KBRN,Lhokseumawe : Tidak hanya pedagang cabai, sejumlah pedagang buah Durian asal Takengon terlihat mulai meramaikan Kota Lhokseumawe sejak awal bulan Januari ini.

Durian-durian segar asal kota dingin itu terlihat dijajakan di sejumlah titik di Kota Lhokseumawe mulai dari jalan masuk kota di depan terminal, Jalan Keude Aceh, Jalan Perdagangan, Jalan Merdeka hingga pasar-pasar tradisional seperti Pasar Kota dan Pajak Inpres.

Para Pedagang Durian ini membawa hasil panen raya dari kebun-kebun di Takengon menggunakan mobil pick up maupun becak barang dari jalan lintas KKA yang belum lama ini sudah mulai bisa dilalui.

Konon para Pedagang Durian ini harus menghabiskan waktu berjam-jam sampai akhirnya bisa tiba di Kota Lhokseumawe.

Medan yang sulit dan akses yang masih terputus pasca bencana banjir dan tanah Longsor di Bener Meriah dan Takengon membuat perjalanan memakan waktu dan melelahkan.

Firdaus (32) salah seorang Pedagang Durian asal Takengon, Jumat (9/1/2026) bercerita sulitnya menyeberangkan Durian karena harus diseberangkan menggunakan tali Sling Baja akibat putusnya jembatan antar desa di Takengon.

Durian asal Kecamatan Ketol itu diseberangkan menggunakan Tali Sling dari Desa Kekuyang ke Desa Burlah Kec. Ketol. Hal ini dianggap cukup menguras energi, waktu dan biaya.

"Kemarin kami berangkat dari jam 3 sore tiba di Lhokseumawe jam 12 Malam,"ungkap Firdaus pada RRI.

Durian Takengon yang memiliki ciri khas manis dan legit dan berdaging tebal itu dibanderol mulai harga 35-45 ribu rupiah per buah. Dalam sehari omset yang didapatkan mencapai 2 juta rupiah.

Meski tidak seberapa, keuntungan yang didapat dari penjualan durian dibelikan bahan-bahan pokok seperti minyak goreng, beras, dan juga Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk dibawa pulang ke Takengon.

Selain Durian, komoditi lainnya seperti Cabai, Kopi juga masih diangkut menggunakan sling baja akibat terputusnya akses jembatan. Sling Baja tersebut menjadi urat nadi kehidupan bagi masyarakat dari sejumlah desa, seperti Desa Kekuyang, Burlah, Bintang Pepara, dan Buge Ara, setelah badan jalan dan jembatan utama mengalami longsor akibat bencana.

Firdaus berharap agar akses jalan dan jembatan khususnya di daerah pelosok yang belum tersentuh bisa segera diperbaiki karena akan memudahkan perekonomian masyarakat.

"Di Kecamatan Rusip Antara listrik juga masih belum menyala semua, jadi kami sangat memohon agar daerah kami lebih diperhatikan,"ujar Firdaus.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....