350 Hektare Sawah Terancam, Aceh Timur Minta Normalisasi
- 17 Jun 2026 21:41 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Aceh Timur — Pemerintah Kabupaten Aceh Timur melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura resmi mengusulkan normalisasi jaringan Daerah Irigasi (DI) Jambo Aye kepada Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I Banda Aceh. Langkah tersebut dilakukan menyusul kerusakan infrastruktur irigasi akibat banjir besar yang melanda wilayah itu pada November 2025.
Usulan perbaikan diajukan setelah Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky bersama tim Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meninjau langsung sejumlah titik kerusakan jaringan irigasi pada 11 Juni 2026.
Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, mengatakan hasil peninjauan menunjukkan kerusakan cukup serius terjadi pada jalur irigasi Arakundo hingga Grong-Grong di Kecamatan Pante Bidari.
Kerusakan tersebut berdampak langsung terhadap pasokan air irigasi bagi sedikitnya 12 desa yang selama ini menggantungkan kebutuhan pengairan dari jaringan tersebut. Akibatnya, sekitar 350 hektare lahan persawahan mengalami kesulitan mendapatkan suplai air.
“Jika tidak segera ditangani, kondisi ini berpotensi mengganggu musim tanam dan menurunkan produktivitas pertanian masyarakat,” ujar Al-Farlaky, Rabu (17/6/2026).
Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Aceh Timur, Irwin Akbar, menjelaskan bahwa kerusakan terjadi pada jaringan yang merupakan bagian dari Daerah Irigasi Jambo Aye.
Menurutnya, selain mengalami kerusakan fisik akibat terjangan banjir, saluran irigasi juga dipenuhi sedimentasi lumpur yang menghambat aliran air menuju kawasan pertanian.
“Akibat sedimentasi dan kerusakan jaringan, sejumlah desa yang selama ini bergantung pada pasokan air dari irigasi tersebut tidak lagi menerima aliran air secara optimal,” katanya.
Irwin menambahkan, Daerah Irigasi Jambo Aye merupakan salah satu sistem irigasi terbesar di Aceh yang memiliki peran strategis dalam mendukung sektor pertanian di Kabupaten Aceh Timur dan Aceh Utara.
Sistem irigasi tersebut memperoleh sumber air dari Sungai Arakundo atau Sungai Jambo Aye dan memiliki potensi layanan untuk puluhan ribu hektare lahan pertanian produktif di kawasan pantai timur Aceh.
Karena itu, keberadaan DI Jambo Aye menjadi infrastruktur vital yang menopang ketahanan pangan daerah sekaligus sumber penghidupan ribuan petani.
Kerusakan yang terjadi saat ini merupakan dampak lanjutan dari bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh pada akhir tahun 2025. Banjir besar yang terjadi saat itu menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan irigasi, sedimentasi saluran, serta terganggunya distribusi air ke areal pertanian.
Sebelumnya, Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera I telah melakukan berbagai langkah penanganan darurat, mulai dari pembersihan sedimen, rehabilitasi bangunan irigasi, hingga normalisasi beberapa titik saluran yang terdampak.
Bahkan pada awal tahun 2026 telah dilakukan uji coba pengaliran air untuk memastikan sebagian jaringan dapat kembali berfungsi.
Namun demikian, pemerintah daerah menilai masih diperlukan penanganan lanjutan agar seluruh jaringan irigasi dapat kembali beroperasi secara maksimal dan mendukung kebutuhan petani menjelang musim tanam berikutnya.
“Kami berharap BWS Sumatera I segera melakukan normalisasi dan perbaikan menyeluruh pada jaringan irigasi yang rusak sehingga pasokan air kembali normal dan petani dapat mengelola lahan pertanian mereka seperti sebelum banjir terjadi,” ujar Irwin.
Pemerintah Kabupaten Aceh Timur optimistis percepatan perbaikan jaringan DI Jambo Aye akan menjadi langkah penting dalam menjaga produktivitas pertanian, meningkatkan kesejahteraan petani, serta memperkuat ketahanan pangan di wilayah pantai timur Aceh.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....