Dampak Penggunaan Konten Digital Berlebihan

  • 26 Jun 2025 15:45 WIB
  •  Lhokseumawe

KBRN, Lhokseumawe : Apa Itu Brain Rot dan Mengapa Berbahaya?

Istilah brain rot secara harfiah berarti “pembusukan otak”, namun dalam keseharian, ini bukan soal otak yang benar-benar rusak secara fisik. Istilah ini lebih sering digunakan untuk menggambarkan kondisi saat seseorang merasa otaknya "tumpul", sulit berpikir jernih akibat terlalu sering terpapar konten digital yang berulang, tidak bernilai, atau membuang waktu. Istilah ini makin populer sejak 2023, terutama dalam meme dan percakapan daring, untuk menyoroti gaya hidup generasi muda yang terlalu lekat dengan dunia maya, khususnya Generasi Alfa.

Kondisi ini bisa dirasakan saat kita punya niat belajar, bekerja, atau melakukan aktivitas produktif, namun tergoda untuk membuka ponsel hanya “sebentar”. Tiba-tiba saja kita sudah menghabiskan satu jam menonton video lucu, konten masak, atau prank di media sosial. Akhirnya, waktu terbuang, konsentrasi hilang, dan kita tidak lagi bersemangat. Hal ini menunjukkan bagaimana otak terganggu ritmenya karena terus-menerus menerima stimulus cepat dari layar.

Setelah terdistraksi, sering kali kita sulit kembali fokus. Bahkan untuk kembali belajar, kita membutuhkan waktu lama untuk "memanaskan" otak. Aktivitas lain seperti makan siang, olahraga, atau beristirahat pun ikut terganggu karena kita lebih memilih menatap layar. Tanpa sadar, hal ini menciptakan siklus pasif: bangun tidur tanpa semangat, aktivitas terganggu, hingga akhirnya memilih berdiam diri sambil menonton serial atau scrolling media sosial tanpa tujuan.

Para ahli menemukan bahwa terlalu banyak mengonsumsi informasi dari internet bisa menyebabkan kelelahan mental atau cognitive overload. Ini terjadi saat otak kewalahan menyaring informasi yang terus datang tanpa henti. Selain itu, penggunaan media sosial yang intens terbukti dapat mengurangi aktivitas di bagian otak yang bertanggung jawab untuk mengambil keputusan dan mengontrol keinginan impulsif. Inilah mengapa pengguna aktif media sosial lebih rentan terhadap stres, kecemasan, dan bahkan depresi.

Setiap notifikasi atau like di media sosial memberikan sensasi menyenangkan karena otak melepaskan dopamin. Tapi jika ini terjadi terus-menerus, kita bisa menjadi ketagihan untuk terus mencari kepuasan cepat. Sama seperti kecanduan gula atau permainan, kita akan merasa kurang jika tidak membuka media sosial. Ini bisa menimbulkan rasa gelisah, cemas, bahkan rasa hampa ketika jauh dari ponsel atau gadget.

Agar tidak terjebak dalam brain rot, kita bisa mulai dengan menyaring konten yang dikonsumsi. Unfollow akun-akun yang membuat stres atau perbandingan sosial, lalu ikuti akun yang memberi inspirasi positif. Coba hidup lebih nyata: ngobrol langsung, jalan-jalan, berkegiatan di luar ruangan, atau mulai hobi baru. Aktivitas seperti membaca buku, memasak, atau olahraga bisa membuat pikiran lebih segar dan otak tetap tajam. Dunia digital memang menarik, tapi dunia nyata jauh lebih bermakna jika kita benar-benar hadir di dalamnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....