Rumoh Rapai Pase Resmi Dideklarasikan lewat Duel Akbar 50 Rapai
- 27 Jul 2026 08:25 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Aceh Utara – Perhelatan budaya Duel Akbar 50 Rapai Pase yang mempertemukan kelompok Blah Nou Krueng dan Blah Deh Krueng menjadi saksi sejarah dideklarasikannya Rumoh Rapai Pase.
Acara dibuka secara resmi oleh Sekda Kabupaten Aceh Utara, Dayan Albar, M.A.P., mewakili Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, M.M. berlangsung meriah di Seung (Arena Uroeh), Gampong Dayah Meuria, Kecamatan Syamtalira Aron, Kabupaten Aceh Utara, Sabtu (25/7/2026) malam.
Deklarasi ini menjadi momentum krusial dalam pelestarian Rapai Pase—salah satu warisan budaya khas Aceh Utara. Wadah Rumoh Rapai Pase ini dibentuk khusus untuk memperkuat riset, pendokumentasian, regenerasi, pembelajaran, hingga promosi tradisi luhur tersebut.
Pertunjukan ini bertema “Gemuruh Warisan, Harmoni Peradaban”, dengan menghadirkan 50 alat musik Rapai Pase. Uniknya, mayoritas rapai yang dimainkan merupakan peninggalan indatu abad ke-18 dan 19 yang diwariskan secara turun-temurun, sementara tujuh di antaranya merupakan karya buatan generasi muda (Gen Z).
Dalam pertunjukan tersebut, sebanyak 25 rapai memperkuat Blah Nou Krueng (wilayah Tengah–Barat Aceh Utara) dan 25 rapai lainnya membela Blah Deh Krueng (wilayah Tengah–Timur Aceh Utara). Pertemuan dua kubu di satu arena (seung) ini bukan sekadar ajang unjuk kebolehan (uroeh), melainkan simbol perekat persatuan di tengah perbedaan wilayah.
Untuk Kubu Blah Nou Krueng menurunkan sederet rapai pusaka, antara lain: Raja Sagob, Raja Paya Reukam, Raja Jamok, Tualang Muda, Tualang Buket Asee Grah, Tualang Karu, Tualang Meu Pep-Pep, Putroe Bunthok, Buya Galeuh, Tualang Tuha, Si Cumeh, Si Mane, Raja Nago, Tualang Bade, Tualang 40, Si Racon, Boh Beureutoh, Jen Afret, Bantayan, Tualang Badei, Raja Siwah, Tualang Kaca, Raja Himbee, Tualang Batei, dan Putroe Sabawa. Mereka juga menyiagakan sejumlah rapai cadangan peninggalan leluhur.
Sementara untuk Kubu Blah Deh Krueng mengimbangi dengan rapai legendaris seperti: Raja Meudeuhak, Raja Bombai, Raja Muda, Sinampang Baro, Rapai Rayeuk, Bintang Timu, Manek Roe, Ase Banggala, Sibrok Blang Pha, Si Pirak, Lumoe Pok Ateung, Pintoe Ie, Bulukat Tubai, Raja Bujok, Pintoe Rimba, Siparet, Geulanteu Cot Uroe, Raja Itam, Putroe Meuhehe, Putroe Ijoe, Boh Beureutoh, Sibrok Kuta Bate, Simeurante, Buya Itam, dan Tualang Gong.
Membacakan sambutan Bupati, Sekda menyelipkan petuah adat Aceh yang mendalam, yaitu “Adat bak Poteumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana.” Petuah ini mengingatkan bahwa kehidupan masyarakat Aceh senantiasa dibangun di atas keseimbangan adat, syariat, aturan, dan kebijaksanaan.
“Malam ini kita berkumpul bukan sekadar menyaksikan pertunjukan seni, melainkan menyaksikan sejarah yang terus hidup agar warisan leluhur tetap menjadi napas kebudayaan generasi penerus,” kutip Sekda.
Dalam kesempatan itu, Sekda turut mengapresiasi jajaran panitia, para syekh, awak Rapai Pase, tokoh masyarakat, hingga generasi muda. Ia berharap Duel Akbar ini tak cuma hiburan, tapi juga ruang silaturahmi, penguat identitas daerah, dan sarana edukasi kebudayaan.
“Pemerintah Kabupaten Aceh Utara akan terus mendukung pelestarian seni, budaya, dan adat istiadat sebagai aset masa depan yang mampu memperkuat jati diri sekaligus mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” tegasnya
Sementara Ketua Panitia sekaligus Tim Rumoh Rapai Pase, Jafaruddin, menjelaskan bahwa Duel Akbar 50 Rapai Pase merupakan bagian dari program terpadu Pelestarian Warisan Rapai Pase melalui Riset, Pertunjukan Budaya, Dokumentasi Buku, dan Promosi Digital.
"Program ini diinisiasi oleh kolaborasi dosen Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Malikussaleh (Unimal) bersama para pelaku budaya, komunitas seni, dan jurnalis. Kegiatan ini berhasil terlaksana berkat dukungan Dana Indonesiana yang dikelola LPDP bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.'kata Jafaruddin.
Lanjutnya, melalui program ini, Rapai Pase tidak hanya digemuruhkan kembali di arena pertunjukan, tetapi juga didokumentasikan ke dalam bentuk riset, buku, video, serta media digital demi menjaga sejarah, silsilah, dan keahlian para perajin yang selama ini hanya beredar lewat tradisi lisan.
" Kami sangat berterima kasih kepada seluruh pihak dan para donatur yang menyokong acara ini, termasuk BPMA–MedcoEnergi, PGE, Bank Syariah Indonesia (BSI), Bank Aceh, dan Perta Arun Gas, dengan dukungan para mitra bukan sekadar membantu terlaksananya pertunjukan ini, "pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....