Musik Tradisional Aceh Punya Potensi Kuasai Ruang Digital
- 29 Jun 2026 20:43 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID,Lhokseumawe — Era digital tidak selalu harus dipandang sebagai ancaman bagi eksistensi kebudayaan daerah. Jika dikemas secara kreatif, instrumen dan kesenian tradisional Aceh justru memiliki daya saing yang tinggi dan mampu menciptakan pasar serta aliran (genre) musik baru yang memikat di kancah global.
Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Lhokseumawe, Saifuddin. Ia menyebutkan bahwa beberapa bentuk budaya dan kearifan lokal Aceh, khususnya di bidang seni musik dan suara, memiliki modalitas kuat untuk "melawan" dominasi penetrasi budaya asing di ruang digital.
"Seni musik dari Aceh itu ada Serune Kalee, Rapai, ada Canang. Ketika itu dikolaborasikan, sebenarnya menjadi suatu instrumen yang sangat bagus untuk latar belakang penyelenggaraan kegiatan apa pun. Dari luar banyak sekali seni musik, tapi kita tidak kalah," kata Saifuddin, Senin 29 Juni 2026.
Ia mencontohkan seniman lokal seperti Kandi, yang sukses mengeksplorasi seni suara dan musik bersumber kearifan lokal. Dengan menggabungkan Canang, Rapai, dan Serune Kalee, karya-karya tersebut lahir menjadi sebuah aliran musik berkarakter yang memiliki keindahan tersendiri bagi para penikmat musik luas.
Saifuddin juga meluruskan anggapan bahwa generasi z atau generasi muda saat ini sama sekali tidak tertarik pada kebudayaan daerah. Menurutnya, persoalan utama bukanlah pada minat anak muda, melainkan pada minimnya stimulus dan ruang bagi mereka untuk terlibat.
"Persoalannya tergantung dari kita. Cuma hanya saja, mungkin peminat anak-anak muda sekarang untuk kearifan lokal ini kurang. Tetapi ketika kita ajak, ketika kita bangkitkan mereka, sebenarnya kita tidak kekurangan peminat," urainya optimis.
Guna mengonversi potensi seni ini menjadi ketahanan budaya yang produktif, MAA Lhokseumawe mendorong tiga langkah strategis:
Masifkan Ekskul Kreatif di Sekolah: Meniru keberhasilan SMA Negeri 2 Lhokseumawe yang sukses menggelar demonstrasi adat dan bahasa bersastra, sekolah lain didorong menjadikan seni tradisional sebagai tren keren di lingkungan sekolah.
Dukungan Penyiaran dan Platform Digital: Mendorong lembaga penyiaran seperti RRI dan radio swasta, serta para kreator konten lokal, untuk lebih banyak memproduksi dan memutar karya musik etnik kolaboratif.
Regulasi Pemerintah Pemangku Kepentingan: Pemerintah daerah diharapkan hadir memfasilitasi panggung-panggung pertunjukan dan perlindungan karya agar ekosistem ekonomi kreatif berbasis budaya ini dapat tumbuh berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....