Napak Tilas Jejak 800 Tahun Islam di Masjid Dongsi Beijing

  • 27 Jun 2026 12:35 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Beijing – Rombongan jurnalis dari berbagai media se-Sumatra berkesempatan melakukan napak tilas jejak peradaban Islam di ibu kota Republik Rakyat Tiongkok dengan mengunjungi Masjid Dongsi pada Jumat 26 Juni 2026. Kunjungan di hari penuh berkah ini menjadi momen istimewa bagi para awak media untuk melihat langsung harmoni perpaduan budaya Tiongkok dan tradisi Islam yang telah terjalin selama lebih dari enam abad.

Terletak di kawasan Dongsi, Distrik Dongcheng, pusat kota Beijing, Masjid Dongsi tidak tampak seperti masjid pada umumnya yang dihiasi kubah besar. Saat rombongan jurnalis melangkah masuk, mereka disambut oleh tata letak tradisional arsitektur Tiongkok berupa halaman tengah yang dikelilingi bangunan di keempat sisinya (siheyuan).

Bangunan utamanya tersusun secara simetris di sepanjang sumbu tengah, mengadopsi gaya istana tradisional Tiongkok dengan atap bertingkat dan balok kayu berukir. Namun, nuansa Islami langsung terasa begitu melihat detail ornamennya. Kaligrafi Arab yang indah berpadu sempurna dengan ukiran khas Tiongkok, memperlihatkan proses integrasi budaya yang luar biasa.

Berdasarkan catatan resmi pemerintah Beijing yang dijelaskan kepada rombongan, sejarah Masjid Dongsi berakar sangat dalam.

"Masjid ini pertama kali didirikan pada tahun 1346 pada masa Dinasti Yuan. Kemudian, pada tahun 1447, masjid ini dibangun kembali berkat dukungan pejabat Muslim di masa Dinasti Ming," kata Ali, salah satu imam masjid atau biasa disebut Ahung.

Status Masjid Dongsi pada masa lampau sangatlah prestisius. Masjid ini memiliki hubungan erat dengan pemerintah kekaisaran dan dikenal sebagai salah satu masjid penting di Beijing. Hal ini dibuktikan dengan adanya plakat bertuliskan “Qingzhensi” (Masjid) yang dianugerahkan langsung oleh Kaisar Ming Daizong.

Selain keunikan arsitekturnya, daya tarik utama bagi rombongan jurnalis Sumatra adalah koleksi peninggalan sejarah yang ada di dalamnya. Melansir dari berbagai catatan literasi, Masjid Dongsi menjadi rumah bagi peninggalan berharga seperti manuskrip Al-Qur'an kuno dan ukiran kaligrafi kayu yang usianya mencapai ratusan tahun. Peninggalan ini dijaga dengan sangat ketat, menjadi saksi bisu perkembangan literasi dan pendidikan Islam di Tiongkok.

Mengingat nilai sejarah, budaya, dan keagamaannya yang sangat tinggi, pemerintah menetapkan Masjid Dongsi sebagai Unit Perlindungan Peninggalan Budaya Tingkat Kota Beijing pada tahun 1984. Status ini memastikan kelestarian bangunan dan artefak di dalamnya dari ancaman modernisasi kota Beijing.

Meski berstatus sebagai peninggalan sejarah kuno, Masjid Dongsi bukanlah museum mati. Pada kunjunga tersebut, para jurnalis dijelaskan bahwa masjid ini masih aktif digunakan oleh komunitas Muslim setempat. Kegiatan shalat, pengajian, serta berbagai kegiatan keagamaan dan kebudayaan masih rutin digelar.

Kunjungan delegasi jurnalis Sumatra ke Masjid Dongsi ini tidak sekadar liputan wisata religi, melainkan sebuah studi jurnalistik mengenai keberagaman. Masjid Dongsi berdiri tegak sebagai contoh nyata keragaman budaya dan toleransi beragama yang telah berkembang di ibu kota Tiongkok selama ratusan tahun.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....