Kejayaan dan Kejatuhan Industri Raksasa Aceh: Kilas Balik PT KKA
- 08 Jun 2024 15:06 WIB
- Lhokseumawe
Gambaran PT KKA Terkini
KBRN, Aceh Utara: Jum'at (7/6/2024) sore, Reporter RRI Lhokseumawe mendapat kiriman foto terkini (potret) besi tua peninggalan Pabrik Kertas Kraft Aceh (KKA).
Potret diabadikan salah seorang rekan jurnalis di Lhokseumawe, Agam Khalilullah. Saat pertama kali melihat gambar tersebut, ingatan kami langsung Flashback ke belakang yakni era kejayaan kawasan Petro Dolar.
Bahkan penulis punya sanak saudara yang pernah bekerja di perusahaan tersebut, meskipun kini sudah tidak lagi. Sama seperti Presiden Joko Widodo yang juga pernah bekerja disini saat sebelum berkiprah didunia politik.
Sedangkan sanak saudara penulis yang tidak saya sebutkan identitasnya, terjun ke dunia politik Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pernah tertangkap aparat keamanan (TNI), dan baru dibebaskan ketika terjadinya perjanjian damai Pemerintah RI-GAM, serta yang bersangkutan masih hidup sampai dengan sekarang.
Menjalani rutinitas kehidupan sebagai Mantan Tahanan Politik (Tapol) dan melupakan KKA sebagai sisa peninggalan Pabrik (Industri) raksasa PT Kertas Kraft Aceh (KKA) Persero di Kecamatan Banda Baro, Kabupaten Aceh Utara.
KKA Tinggal Kenangan
Perusahaan ini tinggal kenangan karena telah berhenti beroperasi sejak akhir tahun 2007, dan akhirnya dibubarkan pada tahun 2023.
Sejarah PT KKA Persero akan selalu melekat dengan sejarah Negeri Petro Dolar (Nama lain Lhokseumawe-Aceh Utara) pada masanya.

Pabrik berdiri pada 21 Februari 1983 (Wikipedia Ensiklopedia bebas). Perusahaan didirikan sebagai program Swasembada kertas Kraft yang merupakan bahan baku Kantong Semen.
Puncak kejayaannya aktivitas dari Perusahaan ini adalah antara periode tahun 90-an. Menciptakan Multiplayer Effect ekonomi sekitar kawasan Kecamatan Dewantara, Aceh Utara yang juga berdiri pabrik Pupuk Pupuk Raksasa saham negara Asean PT. Asean Aceh Fertilizer (AAF) dan juga tinggal kenangan.
Era Glamour Petro Dolar, begitulah penulis melukiskan sejarah manis tersebut, karena bersamaan dengan era kejayaan gas raksasa PT Arun LNG dan Exxon Mobil Oil yang kini berganti nama Perta Arun Gas (PAG) namun tak seindah masa keemasannya.
Pemanfaatan Turbin Uap
Satu persatu perusahaan sekitarnya bertumbangan dan angkat kaki dari Aceh Utara setelah kepergian Exxon dan PT Arun LNG, seperti PT KKA, PT AAF, hingga PT Humpus Aromatik dan lain-lain. Sekarang pabrik sekitar berbahan baku Gas hanya tersisa PT Pupuk Iskandar Muda (PT PIM). Lainnya sudah dibubarkan.
Pada tahun 2016, Presiden Joko Widodo yang dulu pernah bekerja di PT KKA mengungkapkan keinginannya agar perusahaan beroperasi kembali. Sebelumnya juga ditahun 2015, Gubernur Aceh, Zaini Abdullah menandatangani nota kesepahaman dengan Floresta Pte Ltd asal Singapura untuk menghidupkan kembali perusahaan ini.
Dengan perjanjian waktu itu, jika Pemerintah Pusat tidak mengizinkan perusahaan dikelola Pemerintah Aceh maka nota kesepahaman batal dengan sendirinya. Dan, pada bulan April 2023, Pemerintah Pusat resmi membubarkan perusahaan KKA.
Pemerintah Pusat hanya memanfaatkan pembangkit listrik peninggalan PT KKA untuk dipasok ke PLN sejak tahun 2014. Dua unit Turbin Uap pembangkit listrik peninggalan KKA memasok listrik sebesar 20 hingga 24 MW (Mega Watt).
Tahun 1989 hingga 1990 adalah tahun-tahun dimana para Karyawan bekerja memproduksi secara komersial diareal perusahaan seluas 219,2 hektare di wilayah yang masa itu masih bernama Lhokseumawe, Aceh Utara. Tercatat dalam sejarahnya, nilai investasi mencapai US$ 423.650.151 milyar dollar.
Sebab Perusahaan Tutup
Saat itu, perusahaan digerakkan lewat joint venture antara Pemerintah Indonesia, Alas Helau, dan Georgia Pacific dengan status Penanaman Modal Asing (PMA) yang kemudian diubah Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).
Bahan baku produksi kantong Semen pada waktu itu berupa kayu pinus dan bahan bakar untuk menghidupkan pabrik menggunakan Gas LNG. Tapi takdir berkata lain, tahun 1998, Indonesia dilanda krisis moneter, perekonomian negara tidak stabil, protes rakyat terjadi dimana-mana, terjadi pembakaran hingga penjarahan.
Disusul di Aceh, yang meluas ke konflik politik pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Huru hara dimana-mana, dan dimasa itu pula secara perlahan perusahaan raksasa pamit dari Aceh, meskipun bukan sepenuhnya karena keadaan konflik. Sebab, PT KKA sendiri meninggalkan beban hutang besar pada masa krisis moneter saat itu.
Artikel ini sendiri tidak ada maksud menyinggung pihak manapun, dan hanya menjadi ingatan bersama sebuah sejarah untuk dikabarkan pada generasi penurus.
Maknanya, pernah ada era keemasan industri raksasa di Aceh dan itu fakta, nyata, bukan isapan jempol belaka.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....