Tausiah Sore Bahas Konsekuensi Cinta Kepada Allah SWT
- 09 Jul 2024 20:15 WIB
- Lhokseumawe
KBRN,Lhokseumawe: Salah satu ciri keimanan yang benar adalah tumbuhnya cinta kepada Allah Ta’ala. Demikian disampaikan UStad Muhadar saat mengisi siaran Tausiah Sore di Pro 1 RRI Lhokseumawe, Selasa (9/7/2024).
Lanjutnya, kita berkali-kali diingatkan dengan firman Allah Ta’ala berikut ini, “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah, 2 : 165)
Untuk memahami bagaimana mencintai Allah Ta’ala, marilah kita mengenal tentang lawazimul mahabbah (konsekuensi cinta) sebagai berikut.
Pertama, konsekuensi cinta diantaranya adalah mahabbatu man ahabbahul mahbub (mencintai siapa yang dicintai sang kekasih). Jika kita mengaku mencintai Allah Ta’ala, maka selayaknya bagi kita untuk mencintai siapa saja yang dicintai-Nya.
Diantara mereka yang dicintai oleh Allah Ta’ala adalah orang-orang yang disebutkan di dalam Al-Qur’an telah mendapatkan curahan nikmat dari-Nya, yaitu: para nabi dan rasul, shiddiqin, syuhada, dan shalihin.
Kedua, konsekuensi cinta diantaranya adalah mahabbatu maa ahabbul mahbub (mencintai apa-apa yang dicintai sang kekasih). Jika kita mengaku mencintai Allah Ta’ala, maka selayaknya bagi kita untuk mencintai apa-apa yang dicintai-Nya.
Ketiga, konsekuensi cinta diantaranya adalah bughdu man abghadhahul mahbub (membenci siapa saja yang dibenci sang kekasih). Jika kita mengaku mencintai Allah Ta’ala, maka selayaknya bagi kita untuk membenci siapa saja yang dibenci-Nya.
Keempat, konsekuensi cinta diantaranya adalah bughdu maa abghadhahul mahbub (membenci apa-apa yang dibenci Sang Kekasih). Jika kita mengaku mencintai Allah Ta’ala, maka selayaknya bagi kita untuk membenci apa-apa yang dibenci-Nya.
Imam Nawawiy dalam kitabnya Syarh Sahih Muslim mengatakan: “Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah mesjid karena sebagai tempat melakukan ketaatan, dan dibangun atas dasar takwa. Dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar karena banyak terjadi penipuan, penghianatan, riba, sumpah palsu, menyalahi janji, lupa mengingat Allah, dan sebagainya.”
Al-Mulla Ali Al-Qariy mengatakan: “Kandungan hadits ini ditinjau dari sisi mayoritas, karena bisa jadi seseorang ke mesjid untuk melakukan hal negatif seperti ghibah, dan orang ke pasar untuk mencari rezki yang halal.”
Hadis ini bukan berarti larangan pergi ke pasar, karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya pun pergi dan melakukan transaksi di pasar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....