Menjaga Jempol Digital: Pentingnya Etika Berkomentar di Media Sosial
- 06 Okt 2026 14:15 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Fenomena ujaran kebencian dan cyberbullying di media sosial kian hari kian mengkhawatirkan masyarakat digital modern. Banyak pengguna internet dengan mudah melontarkan kalimat pedas tanpa memikirkan dampak psikologis yang dirasakan oleh penerima pesan. Padahal, satu kata negatif yang diketik di kolom komentar mampu melukai mental seseorang secara mendalam. Fenomena ini menunjukkan pentingnya kesadaran kolektif untuk menata kembali tata krama berinteraksi di ruang publik virtual.
Ketiadaan tatap muka secara langsung sering kali membuat sebagian netizen merasa bebas dan kehilangan empati saat berpendapat. Penggunaan akun anonim atau akun palsu turut memperparah keberanian semu pengguna untuk merujak sesama tanpa rasa takut. Batas antara kritik yang membangun dan ujaran kebencian pun menjadi makin kabur di mata masyarakat awam. Akibatnya, ruang digital yang seharusnya menjadi sarana edukasi dan komunikasi kerap berubah menjadi arena perselisihan yang tidak sehat.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh, Masriadi Sambo, Selasa 6 Oktober 2026, menegaskan pentingnya literasi digital yang masif untuk membentuk etika bermedia sosial. Menurutnya, literasi digital tidak hanya sekadar kemampuan teknis mengoperasikan gawai, tetapi juga mencakup pemahaman etika dan tanggung jawab sosial. Edukasi mengenai dampak hukum serta kesehatan mental akibat cyberbullying harus terus digaungkan di lingkungan sekolah, kampus, hingga komunitas. Tanpa pemahaman etika yang kuat, kemajuan teknologi justru dapat menurunkan kualitas peradaban berinteraksi masyarakat.
Masyarakat perlu menerapkan prinsip saring sebelum sharing serta menyaring setiap komentar sebelum tombol kirim ditekan. Mengungkapkan pendapat atau ketidaksetujuan merupakan hak setiap warga negara, namun hal tersebut harus disampaikan secara santun dan konstruktif. Menghargai perbedaan pandangan di dunia maya adalah langkah awal untuk menciptakan ekosistem digital yang aman dan nyaman bagi semua orang. Budaya bijak bermedia sosial harus dimulai dari diri sendiri agar jempol kita tidak menjadi senjata yang merugikan orang lain.
Melalui sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, diharapkan iklim ber-media sosial di Indonesia dapat bertransformasi menjadi lebih sehat. Media massa seperti RRI Lhokseumawe terus berkomitmen memberikan edukasi literasi digital secara berkelanjutan kepada publik. Mari kita jadikan platform digital sebagai ruang untuk menyebarkan kebaikan, menginspirasi, serta mempererat tali silaturahmi antarwarga. Saatnya menjadi netizen yang cerdas dan bijak, bukan netizen yang buas di media sosial.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....