Bukan Sekadar Kemasukan Air, Ini yang Terjadi pada Tubuh saat Tenggelam
- 05 Okt 2026 09:56 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Tenggelam sering dibayangkan sebagai kondisi ketika paru-paru dipenuhi air. Padahal, secara medis, tenggelam adalah proses ketika seseorang mengalami gangguan pernapasan akibat tubuh terendam atau terbenam dalam cairan.
Dalam kondisi ini, ancaman terbesar bukan semata-mata banyaknya air yang masuk ke paru-paru, melainkan terhentinya pasokan oksigen ke tubuh dan otak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 300 ribu orang meninggal akibat tenggelam setiap tahun di dunia.
Ketika wajah berada di bawah air, tubuh secara otomatis berusaha mencari udara. Seseorang biasanya akan menahan napas, kemudian muncul dorongan kuat untuk bernapas akibat meningkatnya karbon dioksida dalam darah.
Jika tidak segera mendapatkan udara, kadar oksigen turun atau hipoksia terjadi. Kondisi ini dapat menyebabkan kebingungan, kehilangan koordinasi, penurunan kesadaran, hingga akhirnya berhenti bernapas.
Menurut American Heart Association (AHA), tenggelam umumnya berkembang dari henti napas menuju henti jantung. Ketika oksigen dalam darah sangat rendah, jantung akhirnya tidak mampu mempertahankan fungsi normalnya.
Karena itu, pada korban tenggelam, persoalan utama bukan hanya mengembalikan denyut jantung, tetapi juga secepat mungkin mengembalikan pernapasan dan oksigenasi.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa korban tenggelam dapat mengalami kerusakan otak dan organ lain meskipun akhirnya berhasil diselamatkan.
Semakin lama otak kekurangan oksigen, semakin besar risiko cedera neurologis. Bahkan setelah korban berhasil dikeluarkan dari air, gangguan pernapasan masih dapat terjadi sehingga korban perlu mendapatkan penilaian medis.
Bagi penyelam, persoalan lain yang tidak kalah penting adalah kepanikan. Divers Alert Network (DAN) menjelaskan bahwa kecemasan di bawah air dapat membuat penyelam kesulitan mengendalikan pernapasan.
Pada penyelaman tahan napas, DAN juga mengingatkan bahwa hiperventilasi dapat menurunkan kadar karbon dioksida sehingga dorongan untuk bernapas berkurang, sementara kadar oksigen terus menurun.
Karena itu, penyelaman tahan napas tidak boleh dilakukan sendirian. Sejumlah tragedi besar memperlihatkan betapa seriusnya risiko di lingkungan air.
Di Indonesia, tenggelamnya KRI Nanggala-402 di perairan utara Bali pada April 2021 menggemparkan masyarakat. Sebanyak 53 awak kapal dinyatakan gugur setelah kapal selam tersebut tenggelam saat menjalankan tugas.
Dunia juga dikejutkan tragedi kapal selam wisata Titan pada Juni 2023. Kapal selam tersebut mengalami implosi ketika menuju bangkai Titanic dan menewaskan lima orang. Investigasi kemudian menemukan kegagalan struktural pada lambung kapal.
Pada akhirnya, keselamatan harus dimulai sebelum seseorang masuk ke air, melalui kemampuan berenang, penggunaan alat keselamatan, pengawasan anak, memahami kondisi cuaca dan arus, serta tidak melakukan aktivitas air seorang diri.
Jika seseorang berhasil dikeluarkan dari air dan tidak bernapas normal, AHA merekomendasikan segera memulai CPR yang mencakup bantuan napas dan kompresi dada oleh penolong yang terlatih, sambil meminta pertolongan darurat.
Kemampuan berenang penting, tetapi kewaspadaan, pengawasan, pengetahuan pertolongan pertama, dan keberanian meminta bantuan pada waktu yang tepat sama pentingnya untuk mencegah terjadinya tragedi tenggelam.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....